Antara Marah dan Rendah Hati

marah itu jelek

Apa kado terbaik yang akan membuatmu menjadi lebih baik… Bagi saya kado terbaik yang membuat kita menjadi lebih baik adalah marah, itu pun kalau kita menerimanya dengan kerendahan hati.

Setiap diri kita pernah mengalami marah atau bahkan dimarahi. Orangtua kita bahkan telah mengajari kita caranya marah; suara membentak, bicara yang ketus dengan mata melotot atau cukup didiami saja.

Soal marah, saya baru mengalaminya. Saya baru mendapat kado kemarahan dari senior di tempat saya bekerja hanya gara-gara masalah sepele. Karena masalah ini sampai ke pimpinan, maka pimpinan menegur kami berdua. Sayangnya, teguran dan kritikan itu malah semakin membuatnya marah besar dan saya pun menjadi tempat pelampiasannya, menuduh saya sebagai ‘tersangka’ atas kritik yang ia terima. Akibatnya beberapa dokumen saya yang ada padanya tidak ia proses.

Marah sejatinya adalah fitrah manusia. Tidak ada manusia yang tidak pernah marah. Namun caranya saja yang berbeda-beda.

Bagi sebagian orang, marah akan memberinya kepuasan untuk mengungkapkan kekesalannya. Ia laksana air sungai yang tiba-tiba meluap dan menumpahkannya kemana-mana tanpa perduli siapa yang berada disekitarnya. Ia marah dengan nafsunya sehingga tidak lagi berfikir bagaimana perasaan orang lain yang menerima kemarahannya, apa anggapan orang lain ketika melihat ia marah dan malah terkadang kemarahan itu membuatnya mengungkapkan sesuatu yang tidak sesuai lagi dengan fakta. Disadari atau tidak, kemarahan seperti itu telah memberi penilaian negatif pada diri yang bersangkutan dan bisa jadi rasa hormat orang-orang disekitarnya padanya menjadi berkurang.

Marah hanya bisa dihadapi dengan rendah hati dan menjadi rendah hati itu tidak mudah. Marah itu sendiri sebenarnya malah membuat kita semakin tidak nyaman karena dengan kemarahan itu kita berupaya membuat seseorang itu merasa bersalah pada kita. Lalu kita tidak puas kalau target kemarahan kita itu tidak memohon-mohon maaf pada kita. Setelah itu coba tanya diri kita (yang punya nurani), apakah kita akan bergembira setelah semua itu kita dapatkan. Pernahkah kita bercermin sebelum kita memutuskan untuk marah.

Marah adalah kado terbaik untuk kita yang ingin menjadi lebih baik. Jika kemarahan yang kita terima karena kesalahan kita, anggaplah itu sebagai bagian dari nasehat dan kritikan untuk kita memperbaiki diri. Namun apabila kemarahan yang kita terima bukan karena kesalahan kita, anggaplah itu sebagai penghapus dosa-dosa kecil kita atau si pemarah sedang menghadiahkan pahalanya buat kita… 😉

Meminta maaflah, walau kita tahu bukan kita yang salah. Meminta maaf bukan menunjukkan lemahnya diri kita melainkan upaya untuk menumbuhkan kerendahan hati. Sedangkan bagi si pemarah, rasa puasnya hanya mengantarkannya pada puncak es yang lambat laun dapat membuatnya tergelincir.

Iklan

8 Tanggapan

  1. Apa kado terbaik yang akan membuatmu menjadi lebih baik…. 😕

    Buat saya ya doa aja. 🙂

    iya, bener juga tu 🙂

  2. kalau marah terus cepat tua kang….he…he…

    hehe… bisa aja

  3. marah boleh asal, tapi harus cepet senyum lg, ok 😀

  4. salamm….award blogging

  5. Jangan marah terlalu berlebihan ,ntar malah jadi bumerang……….salam kenal

    setuju… marah malah tidak mendamaikan situasi

  6. kalo saya marah palingan hanya diemin orang yg bersangkutan aja, tp gak sampe berminggu minggu kok :mrgreen:

    memang cara orang beda-beda dalam memanajemen rasa marahnya 🙂

  7. keep blogging 😉

    siap boss 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: