Benci Tapi Rindu

Keletihan menggelayuti tubuh. Baru dihempaskan ke kasur sejenak. Kantuk sudah membuat sepasang mata itu terkulai layu. Perlahan-lahan meredup, seperti daun jendela yang ditutup kala senja tiba.

Dering telepon genggam memecah alam mimpinya. Ia menyesal kenapa tidak menjauhkan alat komunikasi itu sehingga membatalkan tidurnya. Ia lirik cahaya yang berbinar di layar. Nomor yang begitu akrab dimatanya. Dia lagi dia lagi.

Kenapa dia masih menelponku? Tanyanya sendiri.

Ah, bohong jika ia tidak merindukannya. Namun kadang rasa benci menyembul begitu cepat bila mengingati masa lalu bersamanya. Namun rindu membuat jemarinya menekan tombol jawab.

Komunikasi kembali terjalin. Kadang kesal, pura-pura, malu-malu, benci, rindu bercampur aduk jadi satu hingga menit ke menit tak terasa dilewati.

Masih maukah bertemu denganku?

Ia tak berani menjawab. Ia hanya lelaki yang lemah soal cinta. Benci tapi rindu. Begitu padanan kata yang tepat baginya.

Baterai telepon genggamnya yang melemah membuatnya sedikit lega. Mati. Ia tak lagi mendengar suara merdu yang pernah memanjakannya dengan panggilan ‘sayang’.

Kuat ia menahan gejolak rindunya lalu beralih pada laptop kesayangannya. Berkali-kali ia putar lagu kesayangannya, mengantarnya menghabiskan malam…

Seberapa pantaskah kau untuk kutunggu
cukup indahkah dirimu untuk slalu kunantikan
mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku
mampukah kita bertahan di saat kita jauh…
Seberapa hebatkah untuk kubanggakan
cukup tangguhkah dirimu untuk slalu kuandalkan
mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang
sanggupkah kau meyakinkan di saat aku bimbang
Celakanya hanya kaulah yang benar-benar aku tunggu
hanya kaulah yang benar-benar memahamiku
kau pergi dan hilang kemanapun kau suka
celakanya hanya kaulah yang pantas untuk ku banggakan
hanya kaulah yang sanggup untuk aku andalkan
diantara pedih aku slalu menantimu
(Sheila on 7 – Seberapa Pantas)

12 Tanggapan

  1. (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    Saya sih milih rindu saja ketimbang benci.
    Emang siapa yang nyruh milih??, hehehehehe….

    benci juga gak apa-apa bang, kan benar-benar cinta🙂

  2. hmmm,,, jack,,,jack,,,

    aku tau nech ceritanya,,,,

    ha…ha…ha… kau akui juga ya kalau kau masih
    R I N D U,,,

    haha… sok tau kau sha
    siapa pulak yang kurindukan

  3. ehm
    prikitiw
    yo ayo ayo
    nikahin saja😀

    hehe… bener juga tuh🙂

  4. hem..hem..,
    ada yang lagi…🙂

    🙂 kok gak diterusin

  5. Kadang sesuatu yang nggak ada itu yang pualing dirindukan

    bener tuh, ada diacuhkan, jauh dirindukan

  6. udah jadi itu Jay..segera amankan pertamax (ehhh :p)

    undang2 ya kalo udah jadi…bayarin tiket sekalian. hahaha…

    sukses, jay..

  7. nice story ;>

    terima kasih🙂

  8. salam jumpa mas…lama nggak comment jadi kangen juga….kaya postnya benci tapi rindu…nice…

  9. hallo mas ……kayanya aku juga rindu nich….lama nggal comment…..

    hallo juga mas… iya nih, lagi sibuk kerja, hehe
    makasih ya masih sempat mampir kemari, saya pasti segera mampir ke blog mas

  10. Benci dn rindu itu emang menyiksa

  11. waktu terus berlalu dan dengan laptop itu pun ia akhirnya terkalahkan oleh sepinya malam.
    🙂
    salam kenal ya dari blog sebelah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: