Pak Tua yang Selalu Tersenyum

sedekah membawa berkah

Perlahan-lahan, mesjid itu semakin ramai dipenuhi jamaah yang akan menunaikan shalat jumat. Dihalamannya, beberapa jamaah masih asyik teronggok di atas sepeda motornya, ada pula yang duduk di anak tangga mesjid. Namun satu persatu dari mereka akhirnya masuk setelah seorang nazir menghimbau jamaah untuk bersegera dan memenuhkan saf depan.

Usai shalat tahyatul mesjid, pandanganku tertuju pada seorang bapak tua yang duduk di saf kedua didepanku. Wajahnya selalu menebar senyum pada jamaah. Bajunya berlengan panjang, tersemat jam keemasan di lengan kanannya. Subhanallah, kaki bapak tua itu berbeda dengan kakiku. Ada keistimewaan yang kulihat di sana.

Saat itu seorang bapak menghampirinya, menunduk, menyapa dan menyalaminya. Bapak Tua menyambutnya dengan senyum yang menunjukkan barisan giginya. Lalu bapak yang datang menyapa tadi memasukkan beberapa lembar kekantong baju pak Tua. Pak Tua tidak menolak dan tidak pula mengucapkan terima kasih, namun dari senyumnya, aku melihat ungkapan terima kasihnya yang tak terhingga dan tulus.

Tidak berapa lama, datang lagi seseorang seusianya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan bapak sebelumnya. Mengulurkan beberapa lembar ribuan kepada Pak Tua. Namun pak Tua hanya membalas dengan barisan giginya yang indah. Orang itu menyodorkan lagi, tapi Pak Tua tetap tidak menyambutnya. Akhirnya orang itu memasukkan sendiri uangnya ke saku baju Pak Tua sambil tersenyum.

Pak Tua tidak berkata dan tetap tersenyum.

Beberapa orang juga melakukan hal yang sama, bersedekah beberapa lembar uang untuk Pak Tua. Aku bersyukur pada Allah, masih banyak orang yang memperhatikan saudara-saudaranya yang kekurangan. Aku juga salut dengan Pak Tua, yang tidak memanfaatkan β€œkeistimewaannya” untuk meminta-minta.

Aku saat itu berniat untuk ikut bersedekah padanya. Aku tidak membawa dompet memang, tapi ada beberapa lembar uang yang kusiapkan biasanya untuk mengisi kaleng infak mesjid.

Khatib sudah naik ke mimbar. Muazzin mulai melafalkan takbir dan kotak infak mulai dijalankan disetiap saf. Kotak infak mulai singgah di setiap jamaah dan kini berada dihadapanku. Aku mengisinya dan begitu uang mendarat mulus ke dalam kotak infak, aku langsung teringat pada Pak Tua. Astaghfirullah, aku lupa pada niatku untuk menyedekahkan uang itu padanya. Aku memandangnya dan merasa tak enak hati. Kulihat Pak Tua sedang menyeka air yang keluar dari mulutnya.

Iklan

10 Tanggapan

  1. semoga niatnya udah dicatet ya mas.. mungkin lain kali bisa dateng ke masjid itu lagi dan bertemu dengan Pak Tua itu lagi.
    salam..

    iya mbak, semoga saja

  2. hiks, aku juga turut ingin membantu rasanya.. 😐
    trs moga2 ketemu lg sama pak tua itu untuk menyedekahinya….. πŸ™‚

    iya dan… thanks ya

  3. lembut nian hatimu, sahabatku πŸ™‚

    tapi tak selembut bg haris πŸ™‚

  4. Subhanallah, masih banyak orang baik ternyata di dunia yang aku anggap keras dan jahat ini…
    πŸ™‚

    ahaha… dunia tidak jahat, penjahat nya yang banyak…

  5. Assalamu’alaikum…

    maaf baru sempat mampir, apa kabar? πŸ™‚

    waalaikumsalam
    baik… gak apa2, saya juga jarang blogwalking sekarang

  6. jadi,
    gak jadi disedekahin gitu?

    ho oh, 😦

  7. sebuah niat baik yang tertunda….,

    keren juga kata-katanya πŸ™‚

  8. masih ada waktu untuk bersedekah

    iya mas… terimakasih dah mampir

  9. semua itu berawal dari niat … niat yang baik pasti udah dicatat sebagai pahala, meski blum dilakukan … dan apabila benar terlupa … Tuhan yang Maha Tahu …

    ~~~ Salam BURUNG HANTU ~~~

    trims denuz. Kadang begitu, niat baik belum tentu terealisasi dengan baik

  10. eh itu kenapa ya bang pak tuanya ko dikasih sedekah?
    penjaga mesjid kah?
    tuna wicara kah?

    ah gapapa bang yang penting niat baik abang udah di catet sama malaikat tuh

    itulah gak tau, belum sempat kenalan πŸ™‚
    amin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: