Tentang Sebuah Baju

tentang baju

Baju itu masih tergantung di tali yang terjulur di gudang belakang. Baju seorang sahabat yang sudah pergi merantau menemukan kehidupan baru dan jantung hatinya.

Baju itu tidak istimewa buatku, tapi buat dia, itu menunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Jangan salah sangka. Dia bukan Superman, Spiderman atau sejenisnya yang diketahui lewat kostumnya. Ini hanya baju kaos yang banyak logonya. Baju hadiah dari sebuah lomba yang dimenanginya sebagai juara favorit. Itu lomba menulis, memenanginya menasbihkan dirinya sebagai penulis. Pasti dia akan tersenyum dan senang kalau dia tahu aku menyebutnya penulis.

Baju itu tergantung di sana hampir dua bulan. Aku yang menggantungkannya karena tidak sengaja menemukannya di bawah lemari.

Dulu dia pernah mengirim pesan padaku. Meminta agar baju itu dikirimkan via pos. Baju itu sangat berarti, katanya. Aku tau dia saat itu masih kekurangan baju disana. Tapi sekarang, dia mungkin terlupa atau sengaja melupakannya, karena hidupnya sudah sejahtera disana.

Entah kenapa aku merasa tidak enak. Aku ingat baju ini karena ‘diingatkan’ seorang bapak. Bekerja di tempat yang sama denganku membuatnya tau segala tempat ini.

Ketika mendengar suaranya dibelakang aku beranjak dari meja kerjaku. Ternyata dia menanyakan tentang baju itu.

“Jack, ini baju siapa?” Tanyanya sambil membentang-bentangkannya di atas lengannya. Baju itu masih kelihatan baru.

“Oh, itu baju Bang Zoel Pak. Kenapa?”

“Masih dipakai nggak ya?”

Aku tau dia mengingininya. Aku lalu menjelaskan kalau baju itu akan dikirimkan pada yang empunya dalam waktu dekat ini. Ah, aku memang selalu lupa, ingat pun aku malas melakukannya.

Bapak itu menggantungkannya kembali, ada selaksa raut hampa diwajahnya. Dia mungkin sudah lama memperhatikan baju itu tergantung disitu dan tak ada seorangpun di tempat itu yang pernah memakainya. Jadi wajar dia menginginkannya.

Entah kenapa aku seperti ingin saja menyerahkan baju itu padanya. Lalu aku akan menghubungi Bang Zoel kalau bajunya tidak kutemukan. Atau aku berterus terang saja. Dia pasti bisa memakluminya.

Besok baju itu harus sudah aku pindahkan dari sana, menyimpannya atau menyerahkannya.

7 Tanggapan

  1. kenapa ga dikasih ke bapak aja bajunya bang?
    kasihan tuh si bapak

    maunya sih gitu, tapi itu baju orang. Kalo gak diizinkannya kan gak boleh

  2. (Maaf) izin mengamankan KEDUAX dulu. Boleh, kan?!
    Sudah lama juga. Dia sudah lupa atau belum, ya?

    boleh boleh bang…. Setelah membaca postingan ini, dia akhirnya ingat lagi…😀

  3. duh keadaan yang dilematis …
    menurut denuzz mending ngomong dahulu sama yang punya kalo tuh baju ada yg minta, kalo diizinin baru dikasih … kalo gak ya secepatnya aja dikirim … terus kalo udah dikirim, beliin satu baju untuk bapak itu sebagai hadiah dari kakak …

    ~~~ Salam BURUNG HANTU ~~~

    wah, idenya bagus sekali denuzz, terimakasih ya…

  4. wah, kata-katanya mendalam bagiku. aku belum pernah begitu, karena masih kecil, maklum😀

    makasih dekdani, cepat besar ya, wkwkwk…

  5. Salam persohiblogan

    Lama tak bersua. Maaf karena kesibukan membuat saya sulit BW.
    Baru sempet nih, itu pun sekedar sapaan sembari lewat.🙂

    Mohon Maaf Lahir & Bathin

    iya gak papa bang, saya juga begitu🙂
    maaf lahir dan batin juga…

  6. apapun yg bukan punya kita, kita wajib ijin ke pemiliknya🙂

    yup mbak, setuju sekali🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: