Once Upon In Jakarta #3

Dari atas terlihat pelabuhan (Tanjung Priok kali ya?) dan berderet-deret gedung pencakar langit, untung saja bukan pencakar pesawat terbang. Ada suara dari dalam pesawat yang mengingatkan penumpang untuk terus memasang sabuk pengaman dan tetap menonaktifkan handphonenya. Apa benar handphone bisa mengganggu penerbangan? Aku malah banyak melihat penumpang yang mendengarkan musik lewat headset yang terpasang dari handphone mereka selama penerbangan.

Aku menuruni tangga pesawat. Jadi kayak gini toh Bandara Cengkareng, eh Soekarno-Hatta, eh… yang mana sih yang bener. Ibu kepala perawat itu tersenyum dari jauh, dia memperlambat jalannya agar bisa barengan lagi. Namun ketika hendak menuju pintu keluar ia telah bertemu dengan seseorang yang menyambutnya dengan peluk cium.

Aku bergegas keluar, mencari seseorang yang memegang papan namaku dan akan mengantarkanku ke hotel Santika, begitu kata Panitia. Banyak penjemput yang menunggu dan berjajar di pagar pembatas. Tapi tidak ada satupun orang yang ku kenal, apalagi yang memegang papan atau kertas bertuliskan namaku. Satu jam aku menunggu dan bolak-balik konfirm panitia, akhirnya disarankan untuk naik taxi atau Damri yang menuju kawasan Slipi. Aku memilih naik Damri. Takut aja diculik kalau naik taxi.

Belakangan kutau dari salah seorang peserta dari Aceh kalau namaku itu tertulis setelah namanya. Peserta itu landing setengah jam setelah aku. Kok bisa nggak kebaca ya…

Dunia memang selebar tali kolor, eh… daun kelor maksudnya, teman sekamar ternyata teman lama saat tinggal di Banda Aceh dua tahun silam. Beliau masih gagah perkasa, sopan santun, ramah, gemah ripah loh jinawi…

Malam hari, kira-kira ba’da maghrib. telepon kamar berdering.

“Halo…”

“Iya halo…” Jawabku

“Ini Bang Yuli atau Abdi…”

“Ini Abdi… Ini siapa ya?”

“Ini Henny… peserta pelatihan juga. Eh, udah makan malam belum?”

“Ha? Belum” Apa mau nraktir ya… pikirku

“Kata panitia, kita boleh makan di hotel, tapi budgetnya 100.000, kalo diluar. Ada warung padang tuh di sebelah hotel. Tapi kalo mau keluar bareng aja ya”

“Oh… iya boleh, tapi kita tunggu bang Yuli dulu aja. Katanya bentar lagi dia balik. Entar aku telpon lagi ya kalau dia udah balik.”

Begitulah kira-kira perteleponan diriku dengan seorang perempuan yang belum kukenal. Sengaja pendek, capek nulisnya, hehe…

Akhirnya tak lama bang Yuli datang dan kami segera keluar menuju warung nasi padang di sebelah hotel. Ruangannya cukup nyaman, makanan yang tersaji cukup banyak menunya. Kami pun makan dengan tangan, mulut dan dengan lahap.

Tapi, Oow… Bang Yuli menemukan puntung rokok dalam mulutnya. Bentuknya sudah gepeng tapi masih penuh dengan tembakau dan puntung rokok. Iya lalu panggil si pelayanan dan menyatakan komplainnya. Mereka minta maaf berkali-kali dan mengganti makanannya. Tapi akibat puntung rokok itu, Bang Yuli mules dan makanan yang telah terisi dalam perutnya termuntahkan di toilet. Ia ternyata sedikit alergi dengan rokok.

Pemilik warung memang tidak hati-hati sampai-sampai dalam makanan yang mereka sajikan terdapat puntung rokok. Kami bertiga bukan perokok dan jadi kapok untuk makan di warung itu lagi…

Iklan

7 Tanggapan

  1. Duh, jorok sekali kok bisa kemasukan puntung rokok?? 😦 😦

    ya itu mereka kurang cermat kali mas…
    sukur aja bukan bungkus rokoknya πŸ™‚

  2. Huweh, saya benci rokok! Anti rokok!

    saya benci asapnya mas…

  3. berkunjung*berharap dibukakan pintu*

    silahkan masuk Mila, pintu ini selalu terbuka lebar buatmu… πŸ™‚

  4. makin asik nih crita once upon in jakartanya ..btw mw ampe seri brapa ni crita,hehe

    sampe abis idenya aja lah mas, hehe

  5. lho kok yang jemput gak jadi dateng
    trus gimana mbak
    wah penasaran nih
    ditunggu bagian ke 4 nya

    salam kenal/….

    kok mbak, saya cowok loh…
    salam kenal kembali bintang… πŸ™‚

  6. kok bisa ya untung aja pas dah jadi puntung coba nyala hehehehehehehe

    kalo nyala, jadi nasi bakar dong om…

  7. Yah begitulah Jakarta bro. Dari bandara yang luas dan modern… sampe warung makan yang gak bersih πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

    iya, baru tau sayya… πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: