Once Upon in Jakarta #2

Sebelum menaikkan tas ke dalam bagasi, aku sempat mengeluarkan buku untuk menemani perjalanan. Sebuah buku best seller yang pernah dipopulerkan di acara Kick Andy, judulnya Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Hmmm… bukunya benar-benar renyah seperti kerupuk.

Pramugrari nan cantik dan tinggi berseliweran, menaikkan beberapa tas penumpang dan menyusunnya ke dalam bagasi, potongan baju bagian perut mereka sering terangkat ketika harus menjulurkan tangan ke dalam bagasi sehingga ada pemandangan indah dari situ.

Rok mereka teruntai panjang hingga ke mata kaki tapi terbelah sampai ke paha, kira-kira hingga sejengkal di atas dengkul. Itu hanya terlihat sekali saja. Kalau berulangkali bisa jadi dosa kan. Ahli hikmah berkata kalau melihat atau melakukan kemaksiatan, ada kebijaksanaan dan ilmu yang akan hilang dari diri. Buru-buru aku membaca kembali buku yang kupegang,  mengembalikan ilmu yang hilang.

Tanda sabuk pengaman telah menyala, suara operator dari bagasi menyeru untuk memasang sabuk pengaman dan pramugari mempraktikkan cara-cara memasang sabuk, masker, pelampung dan menunjukkan buku panduan keselamatan. Ternyata mereka sudah terampil sekali menjadi juru selamat.

Burung raksasa ini mulai terbang, menabrak awan dan bergumul dengan angin. Deretan rumah penduduk semakin mengecil, aliran sungai seperti cacing tanah, lalu bumi menjadi dua warna saja, hijau dan biru.

Jantungku deg-degan tidak normal. Rasa senang dan khawatir campur aduk didalamnya, senang akan menginjakkan kaki di Jakarta untuk pertama kali, khawatir kalau pesawat tidak sampai ke Jakarta. Tapi perasaan negatif itu aku buang jauh-jauh lewat jendela pesawat.

Aku asyik dengan Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Ini bab paling menarik. Ajahn Brahm, si penulis bercerita tentang 3 pertanyaan Kaisar yang telah memberikan inspirasi pada audiensnya kala berceramah.

Singkatnya, ada seorang Kaisar yang mencari falsafah hidup lewat tiga pertanyaan, karena menurutnya tiga pertanyaan ini akan mampu memberikannya jawaban sebagai pedoman hidupnya.

– Kapan waktu yang paling penting?
– Siapakah orang yang paling penting?
– Apakah hal yang paling penting untuk dilakukan?

Jawaban itu akhirnya terjawab ketika bertemu seorang pertapa. Menurutnya, kita semua tahu jawaban itu, namun kita sering melupakannya. Jawaban untuk pertanyaan pertama adalah “SAAT INI“. Jika kita ingin mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua kita, atau ingin meminta maaf atas kesalahan yang kita lakukan pada seseorang, saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukannya, bukan besok atau lusa. Jangan ditunda-tunda karena kesempatan itu jarang datang kembali. Mungkin saja hanya sekali lalu kita akan menyesali karena tak melakukannya.

Siapakah orang yang paling penting? Menurutnya, sedikit orang yang bisa menjawab pertanyaan ini. Jawabannya adalah orang yang sedang bersama kita. Menurutnya, cerai akan sulit ditemui kasusnya jika saja setiap pasangan memahami pertanyaan ini. Mereka akan selalu menghargai, mendengarkan dan memberikan cinta yang tulus pada pasangannya karena mereka memahami makna pentingnya orang yang saat itu bersamanya.

Begitu juga seorang pengusaha terhadap konsumennya, seorang pebisnis dengan rekanannya, atau seorang aktivis anak dengan anak-anak yang selalu bersamanya. Jika jawaban kedua ini diterapkan dalam hidup kita, keduanya akan dapat berjalan beriringan dan mendapatkan tujuan bersama.

Untuk jawaban ketiga, hal yang paling penting untuk dilakukan adalah peduli. “Peduli” berarti “berhati-hati” dan “mempedulikan”. Aku kurang menemukan banyak penjelasan untuk jawaban ketiga dari buku itu. Mungkin narablogger bisa menjelaskan jawaban ketiga ini…

10 Tanggapan

  1. wah saya belum baca yang versi #1 na..langsung ke TKP ah..:)

    versi 2 nya juga dibaca ya…

  2. Lia belum baca buku itu😦 … pengen beli nanti ….
    oh ya kalo dalam pesawat aq gk bisa ngapa2in selain tidur… wekekekekeke….

    peduli sama orang tidur termasuk gak ya … ?😀

    ya perlu juga kali, jangan berisik kalo ada orang tidur ya,🙂

  3. Belum bC yg #1 jg, ehehe,

    ayo baca (maksa)🙂

  4. belum pernah baca bukunya😦
    tapi mungkin bisa urun komen disini,
    hal yg paling penting dilakukan adalah . selalu berusaha utk berbuat baik krn Allah swt semata, kapanpun, dimanapun dan pada siapapun.
    ini hanya pendapat bunda pribadi saja🙂
    salam

    bagusloh bun bukunya.
    Terimakasih pendapat bunda yang super…🙂

  5. ngomong soal pramugari.. liat pertama berkah..liat 2 kali dosa🙂

    kadang kita tahu orang itu penting dan berarti buat kita..kalo kita kehilangannya atau berada jauh dari kita

    haha… punya pengalaman yang sama tuh kayaknya.
    emang kita sering lupa makna sesuatu ketika kita miliki ya…

  6. saat ini, bersama blog anda
    dan peduli dan berkomentar🙂

    haha… terimakasih ya🙂

  7. berkunjung lagi nih..:)

    selamat datang ya…

  8. tentang peduli..,

    apa yang sampeyan tulis ini adalah sebagian dari wujud kepedulian sampeyan pada lingkungan sekitar saat ituh…

    sepertinya begitu,
    begitu sepertinya…

    haha… ini kan hanya berbagi pengalaman pribadi, apa hubungannya sama peduli (jadi bingung)

  9. pengen baca euy…cobain ach

    silahkan bang,😀

  10. hmmm
    sungguh pertanyaan dan jawaban yang bijak
    *langsung telepon orangtua*

    kalo orang hebat pasti bertanya dengan bijak, dan menjawab dengan bijak🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: