Once Upon in Jakarta #1

Senang sekali mendapatkan kesempatan untuk ikut pelatihan dari kantor. Pelatihan itu diadakan di Jakarta, tepatnya di Hotel Santika, Slipi Jakarta. Ini pertama kalinya aku ke Ibu kota. Kasihan sekali… (alhamdulillah)

Perjalanan dimulai dari Meulaboh ke Bandara Polonia Medan. Polonia sudah tidak asing bagiku, entah berapa kali aku datang kesini, saat pergi ke Batam tahun 2008 lalu dan selebihnya mengantar atau menjemput saudara.

Di bandara, sebelum masuk ke ruang keberangkatan, seorang ibu dengan dua anak kecil bertanya tujuanku. Ternyata ia juga mau ke Jakarta untuk pertama kali. Jadi ia butuh teman. Tentu saja kami teman yang pas karena sama-sama tidak pernah ke Jakarta.

Saya akhirnya punya teman bercerita sambil menunggu waktu keberangkatan. Sedikit tentang ibu ini. Dia bermarga Sirait, seorang kepala perawat di RS. Gleneagles Medan yang menjadi peserta pelatihan tentang kesehatan yang dilaksanakan di Jakarta.

Tak lama kemudian, penumpang burung besi berlogo kepala singa merah diminta untuk naik. Kami bergegas dan akhirnya berpisah juga, karena nomor bangku kami terpaut jauh, si ibu masuk lewat pintu pesawat bagian depan, sedang aku lewat pintu belakang.

Nomor bangkuku ditengah diapit seorang bule dan seorang pemuda berambut ikal. Tapi aku lebih memilih ngobrol dengan pemuda berambut ikal ini, karena bahasa kami sama.

Dia seorang pemuda Kalimantan Selatan, ke Medan untuk bertemu dengan calon istrinya. Duh, senang sekali tentu saja tidak pernah bertemu selama satu tahun. Tapi ia juga menarik nafas dalam-dalam karena menunggu satu tahun lagi untuk kembali ke Medan.

Aku memuji simpatik pada hubungan mereka karena telah berhasil membina hubungan jarak jauh bertahun-tahun. Tentu tidak mudah menjalin long distance relationship (LDR) kecuali dua-duanya punya cinta, kesetiaan dan kepercayaan seperti itu. Itu yang mungkin tidak kupunyai dulu bersama seseorang yang pernah kucinta saat harus menjalani hubungan jarak jauh.

Aw… hampir saja aku terhanyut dalam kesedihan. Tapi melihat bule disamping kiri yang tertidur dengan mulut terbuka. Aku jadi tersenyum

to be continued…

8 Tanggapan

  1. Seperti diriku yg juga LDR .. halahhhh😀

    gleaneagles mengingatkan ku pada Alm nenek😦

    Semoga acara nya sukses ya Abdi.. ditunggu berita selanjutnya ^_^

    cit cuit… LDR nih ye…
    turut berduka ya buat neneknya, alhamdulillah acaranya sukses…🙂

  2. Saya juga jarang sekali ke Jakarta.😀😀

    Iya lah, mau apa saya sering2 ke Jakarta? Ga ada urusan.:mrgreen:

    hehe… tentu saja bepergian harus punya tujuan🙂

  3. LDR yang luar biasa ya!
    aku yakin aku bisa
    kalo…nanti udah punya istri:p

    haha… harus setia donk sama istrinya🙂

  4. LDR lebih awet dari pada ketemu tiap hari…

    ah masa’… kalo dua-duanya setia kan🙂

  5. LDR ada untung ruginya, kembali pada pelakunya, kalau memang yakin bisa, kenapa ngga?
    salam

    iya bunda… memang kalo sama-sama cinta, setia dan percaya, pasti gak ada masalah🙂

  6. wah ketemu yuk bang
    blue kan dijakarta
    salam hangat dari blue

    aduh, udah balik lagi nih ke Medan🙂

  7. kalo lagi dapam perjalanan gtu selalu bnyak yang terpikirkan..yang kadang udah kita lupakan

    benar mas… makanya biar gak lupa kita tulis aja🙂

  8. LDR?mmhh….🙂

    kenapa bro…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: