Ibu Kita (bukan) Kartini

menyuapi - foto by: abdi jaya

Seorang anak menelpon ibunya setelah mendapat sms dari adiknya yang mengabarkan kalau ibunya sedang sakit.

“Bang, mamak sakit. Kalo nanti telpon jangan beritahu adik yang ngabarin ya…”

Bunyi pesan sms itu membuatnya gelisah. Secepat kilat ia meraih ponsel dan menghubungi ibundanya. Diseberang, suara ibu menyahut salam dengan suara yang dipaksa-paksakan ceria. Tapi si anak tersenyum sedih lalu menanyakan kondisi ibunya.

Selanjutnya mudah ditebak.  Si ibu menanyakan siapa yang memberitahu kalau ia sakit. Si anak dengan rasa cintanya ‘memarahi’ ibunya yang menanyakan hal itu.

“Mamakku tersayang… Aku ini anak mamak. Sebagai anak wajib tahu kabar orangtuanya kan…”

Si anak menjelaskan ketidaksetujuan cara ibunya menutupi keadaannya dan mengatakan betapa berharganya ibu dimatanya. Jawaban si anak malah membuat ibunya terisak…

********

Begitulah seorang ibu. Ia selalu menutupi rapat-rapat keadaannya. Ia tidak ingin anaknya yang jauh merantau mengadu nasib jadi terbebani karena keadaannya. Apalagi ia tidak tahu apakah dalam perantauan itu anaknya bahagia atau tidak. Si ibu selalu memastikan anaknya bahwa ia baik-baik saja, walau saat itu ia terbaring di tempat tidur dengan setumpuk obat resep dokter.

Seorang ibu selalu mengkhawatirkan keadaan anak-anaknya yang tidak ada di sisinya, yang berbeda jarak ribuan kilometer dari tempatnya berada. Ia ingin selalu mengupdate kabar anaknya setiap hari. Namun ia tak dapat melakukan itu kecuali menggantinya dengan berbait-bait doa siang dan malam untuk kesehatan dan kesempurnaan hidup anaknya.

Seorang ibu selalu berusaha agar anaknya tidak merisaukannya, namun ia membiarkan dirinya risau akan keadaan anaknya yang ia tidak ketahui dengan pasti yang tanpa disadari malah menjadikan penyakit pada dirinya.

Seorang ibu selalu menyambut gembira anaknya ketika pulang dari rantau dengan sukacita. Memeluk dan mengusap-usap kepalanya. Memasakkan makanan kesukaannya dan setiap hari menjamu layaknya tamu tanpa peduli sudah berapa ratus ribu hutang belanjanya di warung.

Seorang ibu berusaha menidurkan anaknya dipangkuannya walau sudah dewasa sekalipun. Memijat tubuhnya dengan penuh kasih sayang dan selalu tau berat badan anaknya yang menyusut atau bertambah.

Seorang ibu selalu menolak sangu dari anaknya, merasa sangat malu menerimanya dan berusaha membayarnya kembali.

Seorang ibu selalu mendoakan jodoh yang baik buat anaknya dan selalu ingin tahu siapa dan seperti apa calon pasangan anaknya.

Seorang ibu selalu merindukan anaknya. Menasehatinya dengan petuah agama dan pergaulan hidup yang baik di ujung obrolan.

Seorang ibu tidak pernah mengharapkan anaknya akan membalas segala pengorbanan yang pernah ia curahkan dan tidak pernah sedikitpun menghitungnya

Setiap ibu yang ada di dunia ini punya keistimewaan masing-masing di mata anak-anaknya dengan keadaan yang berbeda-beda pula. Seorang ibu yang tinggal di kota dengan kehidupan seadanya akan punya cerita berbeda dengan seorang ibu yang tinggal di kota dengan kelebihan materi. Namun kita yang dilahirkan dari rahimnya akan punya cara masing-masing pula mengungkapkan rasa cinta kita pada ibunda untuk meraih surga yang ada di telapak kakinya.

Karena ini kupastikan, ibu kita adalah perempuan yang lebih hebat dari Kartini yang hanya punya satu hari untuk diperingati. Ibu kita punya setiap waktu untuk kita ingat, untuk kita berbakti…

Iklan

16 Tanggapan

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    kasih ibu sepanjang jaman

    kasih ayah sepanjang galah

  2. Hiks mami…

    Jadi inget dulu aku pernah marahin nyokap juga gara2 sakit gak bilang2 =_=;

    iya bro, tapi marahnya setengah becanda kan

  3. Ibunda, kasih tak bertepi.
    Pada beliaulah Allah SWT menitipkan kita.

    iya bundo, beliau benar-benar amanah hingga kita bisa seperti sekarang…

  4. begitu besar kasih sayang seorang ibu hampir tidak memikirkan dirinya sendiri,,
    ibu bagai malaikat yang menjaga kita di dunia,
    smoga Allah swt selalu memberi kemudahan, berkah
    atas apa yang seorang ibu lakukan,,

    “Ya Allah, ampunilah dosa kedua orangtuaku, dan sayangilah mereka, sebagai mana mereka menyanyangiku di waktu kecil” amin;

    salam, 🙂

    Amin… Ibu kita luar biasa, terima kasih Allah menganugerahkan seorang ibu yang luar biasa 🙂

  5. memang ibu kita bukan kartini. tapi ibu kita juga sama kayak ibunya ibu kartini..
    penuh kasih sayang dan cinta pada anaknya…….

    benar bang… semoga ibu kita selalu dalam lindungan Allah

  6. gue termenung baca postingan lo ini

    jadi kangen emak dirumah

    😦

    thanks bro… semoga kita selalu berbakti padanya

  7. kalo ibuku ga pernah menutupi keadaannya hehe

    sukurlah… lebih terbuka ya sama anaknya… 😀

  8. sebagai anak rantau saya juga mengalami nasib yang sama seperti cerita diatas

    ayo mudik mbak, hehe….

  9. Jadi terharu saya, teringat ibu saya di seberang sana. Menurut saya, sekarang banyak orang yang mulai rancu, ttg apa sih yang dikerjakan Kartini dulu. Banyak kok perempuan2 lain jaman dulu yang juga berusaha mendobrak ‘kemapanan dan keegoisan lelaki” cuma tidak terlihat ke permukaan saja.
    Mari kita nikmati hari2 kita bersama ibu kita…

    bener, Kartini hanya satu yang mewakili dari banyaknya jasa perempuan di masa penjajahan… sayangnya mengapa harus kartini yang diperingati harinya… 😀

  10. mamaku dimataku adalah wanita yg terhebat ^___^ walaupun suka bikin esmosi

    jangan marah ya sama mamanya…. 😀

  11. emaaakkkk…
    chie kangen… hiekz.. 😦

    emak juga kangen… hiks

  12. lama nggak comen sama mas abdi…sekarang ini aku rindu sekali sama ibu ku…pengen sekali rasanya…memeluk bunda tersayang…

    mas rian kebanyakan tamu sih, hehe…
    anak rantau juga ya mas… semoga ibunya selalu sehat

  13. kangen mama T___T

    mama juga, 😀

  14. judul artikelnya keren banget bos, bisa ajah……..

    oh ya… terima kasih ya 😉

  15. karena RahimNYA ada juga dirahim ibu.
    selalu memberi tak harap kembali.
    salam

    bagai sang surya menyinari buminya…
    Bunda, saya sudah lama tak menyapa bunda, terimakasih udah datang bun…

  16. Mohon ijin buat nge share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: