Muntah Kucing

Jam dua belas malam tidak kudengar dentangnya. Bisu kali dia ya. Tak ada pun kudengar tukang ronda memukul tiang listrik sebagai tanda jam berapa. Aku yang belum ngantuk kupaksa aja masuk ke kamar untuk tidur. Tapi…

Bah! ada muntah kucing. Oi mak jang… kena pulak tali tas laptopku.

Mau tau muntah kucing itu seperti apa? Sini kubisikin. Lembek, seperti kumpulan daging ikan yang sudah dikunyah. Mmm… beberapa lainnya tak bisa kukenali. Baunya seperti apa ya… pokoknya seperti muntah kucing lah, daripada bingung jelasinnya, hehe… (hehe gundulmu).

Untunglah ada Khaidir yang menjadi penyelamat muntah kucing untuk dibuang ketempatnya. Khaidir bukanlah nabi yang tinggal di laut itu, (eh, itu nabi Khidir ya…) Dia adalah sahabatku yang memiliki otot kawat tulang besi (soalnya, dia itu kuat dan jarang pake baju kalo udah di rumah, mentang-mentang ototnya gede). Walau begitu, dia sangat baik hati dan suka menolong (tapi harus pake kata tolong dan usahakan memintanya dengan lemah lembut)

Kebaikannya tidak berhenti sampai disitu. Dia pun mengelap lantainya dan mencampurnya dengan pembersih lantai. Jadi agak wangi gitu.

Sedangkan aku buru-buru mencopot tali tas laptop dan langsung mencucinya ke kamar mandi… Ku dekatkan lobang hidungku ke tali tas. Syukurlah, baunya sudah hilang dihantam sabun ekonomi.

Jadi kerjaan dah, gara-gara anak kucing tu, muntah kok gak lihat-lihat tempat. Emang dikiranya kamar aku plastik asoy apa!

Lagian ini akibat si Eko suka manjain kucing. Dicium, dipeluk, ditidurkan di atas bantal. Akhirnya gini nih, muntah pun mesti di tempat yang bersih. Seperti kamarku ini lho… (tuing, muji ndiri kan gak dosa)

Pelajaran baru dari kasus muntah kucing adalah… (sambil ngetok-ngetok papan tulis pake rol panjang):

– Jangan tinggalkan kamar dalam keadaan pintu terbuka. Selain maling, kucing pun bisa masuk.

– Jangan manjain kucing alias melayaninya seperti pacar. Jadikanlah kucing sebagai kucing dan pacar sebagai pacar. Lah, jadi gak nyambung

– Keluarkanlah kucing dari dalam rumah kalau mau tidur. Karena kita tidak tahu apa yang dilakukannya di dalam rumah saat kita tidur. Ia bisa buang kotoran dimana saja. Belum pernah dicakar kucing waktu tidur kan… aku udah.

– Berikan kucingmu makan, karena dia juga makhluk hidup seperti kita yang butuh makan. Tapi usahakan makannya di luar, jangan di dalam rumah (kucing ya, bukan kamu). Jadi dia sadar bahwa dirinya hanyalah seekor kucing yang lemah. Tidak bisa memasak nasi, tidak bisa ngambil rantangan, taunya cuma makan. Jadi ya wajar diperlakukan seperti itu. hehe… (hehe mbahmu)

Sekian pelajarannya untuk kali ini. Sampai jumpa dipostingan berikutnya. Eng ing eng…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: