Mau Mati Bagaimana…

kendaraan ke kubur

Alkisah, seorang yang taat pada Allah sedang mengalami sakaratul maut. Rasa sakit yang ia hadapi membuatnya menjadi haus. orang shalih itupun meminta air minum. Namun air itu keburu tumpah sebelum sampai ke bibir si shalih. Ternyata air itu tumpah karena dihalangi oleh malaikat yang diperintahkan Allah agar air itu tidak sampai membasahi tenggorokan si shalih.

Pada waktu yang lain, seorang kaya yang kufur menghadapi hari-hari terakhirnya hidup di dunia. Sebelum malaikat maut menjemputnya, si kaya meminta dihidangkan makanan kesukaannya, ia ingin diakhir hidupnya dapat happy ending. Sanak keluarganya pun mengusahakan permintaannya. Walau permintaannya itu cukup sulit namun mereka berupaya keras mendapatkannya dan akhirnya si Kaya dapat menikmati makanan favoritnya dan kemudian meninggal. Semua kisah itu disaksikan malaikat yang sebelumnya menyaksikan kematian si shalih.

Ditengah rasa penasarannya, malaikat bertanya pada Allah,
“Ya Allah, aku telah menyaksikan dua kisah dari hambaMu antara hamba Mu yang shalih dengan hambaMu yang kaya. Namun mengapa Engkau memintaku untuk menghalangi air itu sampai ke mulut hambaMu yang shalih. Sedangkan pada hambaMu yang kaya dan kufur ini, Engkau membiarkannya mendapatkan apa yang ia inginkan?”

Allah lalu memberikan penjelasan kepada malaikat. tentang si shalih, air yang akan diminumnya pada hari itu adalah menjadi penderitaan terakhir dalam hidupnya di dunia maupun di akhirat. Sehingga tak ada lagi beban dan siksaan lagi yang akan ia terima di akhirat. Ia akan dapat menikmati kehidupan kekalnya di akhirat dengan limpahan karunia atas balasan amal kebajikannya yang ia lakukan di dunia.

Sedangkan bagi si kaya, semasa hidupnya Allah telah melimpahinya dengan kenikmatan duniawi, namun kenikmatan yang ia rasakan tidak menjadikannya beriman kepada Allah. Malah ia kufur nikmat dan banyak menggunakan hartanya untuk jalan kebatilan. Maka kenikmatan yang ia rasakan di akhir hidupnya itulah kenikmatan terakhir. Tidak ada lagi kenikmatan yang akan ia rasakan di akhirat kelak sesuai dengan amal perbuatannya di dunia.

Kisah si Shalih dan Si Kaya yang kufur tentu banyak terjadi dikehidupan keseharian kita, atau barangkali kita adalah si shalih sendiri atau berperan menjadi si Kaya yang kufur. Yang harus kita sadari adalah kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, tidak ada manusia yang hidup kekal di dunia ini. Kita saja tidak bisa memprediksi kapan kita mati. Bisa saja setelah membaca postingan ini… (bukan nakutin loh…)

Kebanyakan dari kita mungkin berharap saat menjelang ajal nanti kita bisa meninggal dalam keadaan baik, dilihat seluruh anggota keluarga dan masih sempat menikmati sedikit kesenangan. Hal itu tidak lah salah, namun jangan sampai kita menganggap bahwa kesenangan yang kita dapatkan pada saat menjelang kematian adalah jaminan bahwa kesenangan itu akan berlanjut di kehidupan akhirat.

Begitu pula, banyak orang baik dan shalih meninggal dengan cara yang tidak kita inginkan, seperti meninggal dalam kecelakaan, penyakit yang parah, dibunuh dsb. Bukan berarti kematian seperti itu adalah akibat dari perbuatan buruknya atau hukuman dari Tuhan yang ia rasakan di dunia dan berlanjut di akhirat nanti. Ingatkan kisah Umar bin Khattab yang meninggal dibunuh?

Kisah di atas sudah menjelaskan kepada kita semua bahwa apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Jika kita menanam benih kebaikan, kita  juga akan memanen kebaikan. Begitu juga sebaliknya.

So, udah saatnya kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhir nanti dengan menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi laranganNya dan tentu saja kita meminta meninggal dalam keadaan husnul khatimah (akhir yang baik).

Semoga bermanfaat ya…

Note: Cerita di atas kudengar saat mendengarkan khutbah jumat dan ditulis dengan ingatan semampunya.

10 Tanggapan

  1. Jay, tau ngga klo bundo ngga suka diingat2kan ttg hal satu ini.. tentang Mati.

    Mati adalah sesuatu yang pasti, tapi bundo masih pura-pura lupa dengan kepastian satu itu.

    Semoga Alah mengampuni.

    **makasi sudah bantu bundo mengingat.

    sama-sama bundo, ini juga ngingetin saya sendiri bundo…

  2. INGAT 5 SEBELUM 5..
    lagu ini yg jadi ringtone alarmku… mudahan2 diriku selalu mengingat mati (nulisnya sambil gemetaran😀 )

    makasih banget dah mengingatkan

    sama-sama mbak Delia, gemetarannya karena takut atau ada yang ditahan-tahan tuh, hehe…

  3. Kalo sebelum mati aku minta ijin nulis postingan terakhir di blog ku kira2 di Ijinin Tuhan gak yah? huahaha…
    hehe…

    gak bakal bisa tuh kayaknya…🙂

  4. Ya Allah, jadikan hamba khusnul khotimah
    mati dengan indah

    amin… harapan kita sama bang haris…

  5. kisah yang bagus sob, memberi pencerahan

    terimakasih ria, semoga bermanfaat ya

  6. Makasih lho Jay udah ngingatin lagi…🙂

    sama-sama cit… kapan ngingatin aku🙂

  7. http://coretanku103.blogspot.com/2010/03/julia-peres-bupati-pacitan.html

    ih ngeri salam kenal

    kok ngeri, kayak hantu aja😀
    salam kenal juga…

  8. sungguh sebuah pesan yang sangat dalam untuk kita, sebagai hamba di dunia yang fana ini.

    terima kasih bang atas curahan dan ingatannya dalam khutbah jum’at. ditunggu cerita lain yang bisa menggugah jiwa ini🙂

    bahagia kalau tulisan ini berarti… terima kasih juga Aulia sudah membaca note ini

  9. Maha Besar Allah, Ia lebih mengetahui yang terbaik buat hamba yang sholeh…
    smoga kita menutup hidup kita dlm keadaan husnul khatimah,, amin;

    salam,,🙂

    amin… terimakasih bang sudah mampir😉

  10. Semua balasan sesuai perbuatan. Yang paling dekat dengan kita adalah maut.

    yup. segera memperbanyak bekal untuk menghadapi maut🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: