Pilih Jalan Siang atau Malam?

Setelah menyelesaikan suatu urusan di Banda Aceh. Saya memutuskan untuk kembali ke Meulaboh. Biasanya saya memilih waktu malam hari untuk berangkat baik ketika pergi dari Meulaboh ke Banda Aceh atau sebaliknya. Tapi hari itu, saya memutuskan untuk berangkat pada pagi hari dengan hitungan, jika berangkat dari Banda Aceh pada 09.00 wib dan tidak ada halangan, maka saya akan tiba di Meulaboh pada waktu maghrib atau sekira pukul 18.00 wib. Dengan begitu saya bisa menyaksikan pertandingan Raul Gonzalez dkk pukul 03.00 dini hari.

Agak menyesal pada awalnya keberangkatan. Cuaca di Kota Iskandar Muda itu begitu menyengat, sementara saya duduk di buritan dengan kondisi bangku tegak karena terganjal sepeda motor yang ikut dibawa dalam mobil jenis L-300 itu. Sudah panas, busnya warna hitam lagi. Klop dah… Tapi, saya teringat pesan seorang biksu, daripada meratapi kegelapan, lebih baik segera menyalakan lilin.

Selama ini, jika bepergian di malam hari, praktis hanya hitam pekat yang saya lihat. Selebihnya saya akan tidur di sepanjang perjalanan. Syukurlah belum pernah seorangpun yang bertanya tentang situasi dan kondisi dalam perjalanan.

Berbeda dengan berangkat pagi hari, saya menemukan apa yang tidak saya lihat di malam hari. Perumahan mewah yang semakin bejibun, bangunan pertokoan dengan corak dan arsitektur yang artistik dan kemudian berbagai pemandangan alam bisa saya saksikan di sepanjang perjalanan dari Banda Aceh – Meulaboh.

Saat melewati Lamno, Kab. Aceh Jaya, saya baru benar-benar melihat dan merasakan gimana rasanya saat bus naik rakit. Inilah salah satu manfaat bepergian di siang hari. Moment-moment biasa jadi berharga.

rakit ini bisa mengangkut empat kendaraan roda empat

Untuk menyingkat perjalanan, biasanya bus akan menyeberangi sungai dengan menggunakan jasa rakit yang dijalin dari kepingan papan yang disusun rapi di atas tiga buah sampan kecil. Rakit ini dioperasikan beberapa orang warga. Satu orang mengoperasikan mesin boatnya, tiga sampai empat orang mengatur bus untuk naik ke rakit sehingga rakit tersebut dapat memuat hingga empat bus.

Tarif yang dikenakan untuk setiap kendaraan roda empat sebesar Rp. 20.000. Lumayan juga kalau dihitung-hitung penghasilan yang diperoleh warga setempat dari jasa penyeberangan ini. Karena hampir setiap 5 menit akan ada kendaraan yang melalui jalur tersebut.

di sisi kiri kanan jalan berderet warung menjual jajanan

Tempat penyeberangan ini juga menjadi tempat strategis untuk warga menjual oleh-oleh makanan khas daerah setempat. Terlihat dari sisi kiri kanan jalan berderet warung-warung yang memanjakan selera penumpang sembari menunggu antrian busnya untuk dinaikkan ke rakit.

Pernah saya tanya salah satu warga disitu, kenapa tidak dibangun saja jembatan penyeberangan agar memudahkan transportasi warga dan pengguna jalan lainnya. Ia menjawab, Pemerintah daerah setempat pernah berniat untuk membangun jembatan disitu. Namun sejumlah warga menolak karena jembatan tersebut akan menghilangkan mata pencaharian mereka yang diperoleh dari jasa penyeberangan rakit tersebut.

Ini hanya beberapa keindahan yang bisa saya tangkap dalam perjalanan siang hari. Begitupun ada juga ketidaknyamanan yang saya rasakan. Sepanjang jalan antara Lamno hingga Calang, saya terus-terusan menghirup debu, kondisi jalan memang belum di aspal dan malangnya bus kami selalu berada di belakang bus yang lain.

Beruntunglah yang memakai pelindung kepala. Saya lihat penumpang yang tidak memakai penutup kepala seperti saya, rambutnya berubah pirang. Bangku dan dinding bus pun bisa kita gambar dengan jari. Tas ranselku juga ikutan pirang, apalagi dengan baju dan celana, benar-benar jorok. Sebenarnya jika pintu kaca mobil ditutup semua, derita tidak separah itu. Tapi sopir bus dan penumpang di samping kirinya tidak melakukan itu.

Perjalanan yang kita lakukan di siang hari dan di malam hari tentu saja punya perbedaan signifikan. Dan saya jadi bisa belajar untuk kedepannya, memilih waktu perjalanan yang lebih memberikan manfaat dan pengalaman berharga tentunya.

10 Tanggapan

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!

    Kalau saya milih siang. Bisa lihat pemandangan kiri kanan lebih leluasa

    Ini komentar asli dari Alamendah, bukan kek orang yang ngaku-ngaku sebagai alamendah dan menuliskan fitnah dan provokasi sebagaimana baru saya posting

    harus lihat jalan juga ya, biar gak salah jalan…🙂

  2. oh segitu parahnya kah infrastruktur di Aceh? saya sebagai orang Jawa sangat prihatin. tapi apa daya, hanya anak SMA biasa belum bisa membantu banyak.

    paling tidak, diaz tahu ada beberapa daerah yang kondisi infrastrukturnya masih tidak layak🙂

  3. wah debunya tebal banget ya Jay.. tiba-tiba jadi bule😀
    dan itu rakitnya, hiiii serem juga.. takut jatuh ke laut ngga bisa berenang.

    iya bundo… saya sempat bersin-bersin, dan sapu tangan udah gak rupa warna lagi

  4. malam saja mas!

    iya, gak dilarang kok🙂

  5. Kalo siang kita bisa sembari foto2🙂

    Jalan siang lebih nyaman aja karena relatif gak rawan kejahatan di banding malam🙂

    benar bang, memang banyak sisi positif jalan siang

  6. Wow… bus naik rakit… apa nggak deg2an penumpang busnya😀

    Btw, geli juga dengan warga yang menolak pembangunan jembatan. “kalo bisa sulit, kenapa dipermudah”😀. Tanya kenapa😀

    gak begitu deg-degan bro, karena airnya tenang kali ya… kalo berombak baru lah tegang😀
    mereka takut kehilangan mata pencahariannya bro

  7. kalau saya mungkin pilih malam supaya bisa tidur hehe

    kadang-kadang alasan saya begitu juga bang, hehe

  8. mendingan malem.. bisa bergadang…😀

    bergadang di bus, apa enaknya,😀

  9. Aceh… ? We Love It. sebuah kota yang saya mimpikan bisa berkunjung kesana suatu saat nanti.

    salam kenal🙂
    AndrikPrastiyono.Net

    sungguh bang? kalo begitu saya tunggu ya…

  10. Kalau buat aku, siang sama malam ada enak dan ga enaknya. Kalo berangkat siang, kita bisa menikmati semua pemandangan. Terlebih lagi ketika memasuki wilayah Aceh Besar mulai dari Lhok Nga hingga Leupung. selebihnya, siapkan masker/penutup muka (tutupi aja sarung di muka). Nah kalau malam, enaknya bisa tidur sepanjang jalan. jadi bisa istirahat.😀

    masing-masing ada untung ruginya ya,,,😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: