Jidat, I’m Sorry

Tanganku masih meraba-raba kening. Terasa perih benjol ini. Sementara temanku asyik menertawaiku kebodohanku. Timbulnya benjol ini bukanlah akibat guna-guna, teluh, sihir atau sejenisnya. Melainkan kecerobohanku saat menelentangkan diri karena sedikit mengantuk dan saat itu posisi kepala sengaja kusurukkan di bawah meja rendah, seperti meja yang ada di rumah-rumah orang jepang itu.

Saat itu dengan reflek aku bergerak bangun dan “DUENGGG”

Teriakan aduhku disambut tawa bang SOleh. Kalau sudah ketawa, hilang kesolehannya.

Reaksi dari daging jidat akibat aksi benturan antara kulit jidat dengan papan meja menciptakan sebuah bukit kecil di kepala. Aku acapkali menggosoknya berharap benjolan segera kempes agar ketampananku kembali seperti sedia kala.

“Duh… gimana nih, ntar malam mau pergi ke Kota Banda Aceh. Masa’ bawa-bawa benjol kan malu.”

Khaidir datang memberi saran… Nah, kek gini nih orang yang baik budi. Tidak menertawai melainkan memberi solusi

“Udah abang gosok pake (*&^&%^?” Tanya Khaidir.

“Apa?” Kayak salah denger.

“Udah abang gosok pake pisau?”

Ha… digosok pake pisau. Aja aja ada. Emang ini batu asah apa, digosok pake pisau segala.

“Kalo digosok pake pisau benjolannya cepat mengecil,” tambahnya lagi

“Ooo…” Jawabku

Tentu saja maksudnya pake lempengan pisau. Tapi apa iya. Aku tidak segera menuruti sarannya. Selain masih ragu. Pisau di dapur juga berbahaya buat kesehatan. Lempengannya sudah dipenuhi karat. Bisa-bisa benjol ini malah makin parah. Bisa berkarat benjolku.

Mungkin semua ini ada hikmahnya kali ya sehingga jidat ini harus punya asesoris yang tidak diinginkan…

Dalam renunganku saat itu, terciptalah sebuah syair:

Jidat…
I’m sorry
Aku memang ceroboh
seharusnya aku tidak tidur di bawah meja
dan tidak bangun dengan tergesa-gesa
tapi karena kecerobohan itu
aku telah membuatmu cedera
sakit, perih mengalir dari jidat sampe ubun-ubun
kugosok-gosok layaknya lampu aladin
namun jin penyembuh tak juga muncul
malah suara tawa yang menari-nari di telinga ini
Jidat…
Selama ini aku jarang memeperhatikanmu
namun karena benjol ini
aku dapat memandangmu lewat cermin
lalu membelai-belainya sebagai rasa sayangku
(sambil berdoa agar benjol segera berlalu)
Jidat, sudahlah
biarkanlah benjol pergi
dan kembalilah seperti sedia kala
agar aku nyaman saat bersujud pada-Nya

3 Tanggapan

  1. dasar jidat, emang di jidat ada daging ya,,,??

  2. ada nggak ya…

  3. Free Article Directory for submitting press relese and articles

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: