(Tidak) Pentingnya Mengetahui Kekuatan Lawan

Rasanya lebih baik tidak mengetahui kekuatan lawan ketimbang mengetahuinya.

Barangkali kata itu tepat untuk menceritakan kondisi aku saat itu.
Ceritanya sih, kemarin malam ditantang temannya teman untuk bertanding futsal. Temanku ini punya teman, terus temannya itu ngajakin teman-temannya yang lain untuk main futsal. Lalu temanku pun mengajakku dan teman-temanku untuk melayani permintaan mereka. Akhirnya aku dan teman-temanku bertanding melawan temannya temanku beserta teman-temannya. Eh, jadi kebanyakan teman.😀

Pertandingan pertemanan pun dimulai, temanku berbisik kalau lawan kami jago, sudah banyak tim yang mereka kalahkan, bahkan diantara mereka ada yang bermain di tingkat Kabupaten. Hah???

Mendengar perkataan temanku, aku pun jadi ciut nyali. Aduh, malu nih kalo ntar waktu nendang malah diketawain, aku kan memang gak punya bakat nendang-nendang bola, tapi kalo nendang orang boleh lah.

Namun, karena dukungan suporter yang cantik-cantik, rasa percaya diripun tumbuh. Tugas yang kuemban adalah sebagai… Kiper. Aku jadi teringat abangku Casillas yang sedang membela Real Madrid. Xixixix🙄

Pertarungan tidak hanya berjalan sengit, tapi juga sangit, mungkin karena keringetan.

Permainan tanpa wasit dan tanpa jeda ini pun dimenangkan teman-temannya temanku. Sebagai hukuman bagi yang kalah, kami pun harus rela membayar uang sewa lapangan selama satu jam sebesar Rp 120.000, tuh mahal kan. Udah kalah, bayar lagi. Apes banget.

Belum lagi sampai tulisan ini dibuat, seluruh anggota badanku mau copot, seperti pintu yang kehilangan engsel. Nyeri di pinggang, pegal di paha. Mau pijat takut makin parah.

Baidewei, pernah dengar cerita katak tuli yang berhasil memenangkan lomba memanjat tebing?

Sang katak tuli tidak mendengar ejekan, cemoohan dari para penonton dimana semua penonton menganggapnya lemah, malah ia menganggap para penonton sedang memberikan support padanya. Hingga akhirnya sang katak tuli yang berhasil memenangkan lomba. Sedang teman-temannya yang tidak tuli malah gagal untuk sampai di puncak.

Nah bedanya denganku, aku sudah keburu minder duluan karena kata temanku, kalau lawan kami banyak yang sudah bermain di level kabupaten.

kami (dari 5 orang) boleh dibilang hanya dua orang yang faham bermain bola, sedangkan aku sudah bertahun-tahun tidak menyentuh bola, lah yang satunya malah pemain basket.

Akhirnya kami pun menderita kekalahan yang sangat telak secara terhormat. Kenapa terhormat? Karena lawan kami mengucapkan terima kasih padaku. (Mungkin mereka berterimakasih karena sudah menjadikan kami sebagai lumbung gol).😦

Tidak hanya lawan yang bersuka cita, para suporter kami pun ketawa-ketiwi, dan ternyata ketawa mereka ditujukan padaku. kata mereka pemain yang paling lucu dalam pertandingan itu adalah aku. Si Sasa (nama asli) mencoba meniru-nirukan gayaku menjadi kiper, malah mereka sempat merekamnya di hape. Dasar!

20 Tanggapan

  1. salam kenal…ya…

    salam kenal kembali

  2. wah wah wah…sepertinya memang terlihat lucu hahahahaha.
    Link sudah terpasang juga bos.

    oh ya anda memberikan saya ide untuk menulis soal pentingnya mengetahui kekuatan lawan versi saya tentunya. hehehehe

    Rock on…

    wah, pasti hebat tu tulisannya

  3. saya jarang banget main futsal, biasanya main 5 menit nafas udah nggak karuan

    makanya, mainnya jangan 5 menit, tapi 45 menit,😀

  4. futsal? wong disuruh bicara saja blue udah kagak kuat hehehe………
    salam hangat selalu

    lagi sakit ya?

  5. enak juga kalau bisa olah raga rutin ya?
    ah…makin lama tubuhku makin nggak sehat aja😦

    makanya olah raga pak

  6. Kalah menang biasa mas, jangan terlalu dipikirkan.

    hehe… malunya itu loh

  7. Saya ga bs main futsal mas

    ya main yang lain aja,😀

  8. belum ada postingan baru nihh??

    jadi kayak deadline gitu

  9. Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

    cintaku untukmu kangboed🙂

  10. hadoooh harus dpijatin dunk

    pijetin dong kang

  11. Selamat sore Abdi maaf baru dibalas karena kesibukan pekerjaan, Abdi benar kata anda kita tidak perlu mengetahui kekuatan lawan, sehingga tidak menjadi beban atas kekuatan itu yang penting kita bermain optimal sehingga dapat dipastikan kita mendapatkan kepuasan, kepuasan tidak identik dengan kemenangan, bisa juga kalah tetapi hati kita puas ( nrimo ). Terima kasih postingannya, Sukses untuk anda.

    Regards, agnes sekar

    setuju mbak… emang puas koq mainnya.🙂

  12. Ha,ha,ha, ibarat kata uda jatuh ktimpa tangga lagi,😀 lathan dulu da 5 tahun bru coba lawan lagi,kalau msh kalai brarti itu apes binti naas namanya😀

    hehe, memang kemampuannya cuma segitu…

  13. penting dong…

    salam kenal

    salam kenal kembali

  14. Iya sih, di seni perang sun tzu,salah satu poinnya adalah mengetahui kekuatan lawan. Cuma, di seni perang lain ada poin bahwa kalau lawan lebih hebat, ya kita deketin lawan kita, damai gitu, bukan dihadapin secara frontal. huehehehe….

    hehe, itu kan kalo lagi perang ya, lah ini cuma main bola🙂

  15. perdana..
    salam kenal ya, :))

    salam kenal kembali🙂

  16. kunjungan perdana di sore hari🙂
    salam,

    salam kembali

  17. tabahkan hatimu, jay..😛

    saya miris bundo… generasi muda kok begitu, (halah, sok tua)

  18. nah bermain harus sportif

    Lombok Travel

  19. menang kalah kan biasa bang, kalau dlm permainan masak mau semuanya menang.
    yg penting kan hati senang dan badan sehat sebagai bonus.
    salam.

    setuju bunda, tapi kalo kalah dengan skor mencolok, kan malu juga bunda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: