Tarawih Kelam

Seorang pemuda sedikit kesal dalam hatinya saat ibadah solat isya berjamaah baru saja dimulai. Karena imam sudah takbiratul ikhram, cepat-cepat dibuangnya rasa kesal itu jauh-jauh.

Namun dalam setiap solatnya, peristiwa-peristiwa itu seperti adegan film yang terus ia saksikan. Ada semacam perasaan risau, kesal, marah bercampur baur. Solatnya semakin disibukkan dengan pikiran untuk mencari solusi dari peristiwa yang baru saja terjadi di dalam mesjid langganannya untuk solat isya dan tarawih.

Kembali memori itu berputar di setiap tumakninah…
Iqamat baru saja meluncur dari mulut muazzin, imam lalu berniat dan mengumandangkan takbiratul ihram. Jamaah nampak belum siap sedia, masing-masing menyorongkan rekannya untuk memenuhi saf depan, tidak nampak kesadaran untuk berlomba dalam beribadah. Hampir semua lebih memilih untuk berebut saf kedua dan seterusnya. Namun, suara imam yang telah melantunkan alfatihah membuat satu demi satu makmum menyediakan diri melengkapi saf depan. Barangkali dengan keterpaksaan.

Agama menganjurkan kepada umat untuk berlomba-lomba dalam ibadah, namun hal itu tidak tampak dalam jamaah di mesjid tersebut. Masing-masing makmum seperti terbebani jika harus berada di saf terdepan. Langkah mereka berat untuk merapatkan barisan, padahal memenuhi saf terdepan adalah hal yang utama dalam solat berjamaah dan salah satu syarat untuk sempurnanya solat berjamaah.

Sang pemuda memperhatikan raut wajah para makmum lainnya. Tua dan tak bergairah untuk beribadah.

Malam berikutnya…

Pemandangan malam kemarin terulang kembali. Imam tidak mengajak makmum untuk merapatkan saf dan mengisi saf depan yang kosong, melainkan langsung takbir. Para Makmum yang berambut putih dan berkulit keriput tetap menunjukkan penyakitnya, lambat dan setengah hati mengisi saf depan. Sang pemuda hanya mengurut dada. Meminta para senioran yang sepuh untuk mengisi saf depan hanya ditanggapi dingin.

Rakaat-rakaat tarawih berlalu. Dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat dan…

Tujuh rakaat! Haa..!

Tarawih yang seharusnya dua rakaat sekali salam menjadi tiga rakaat. Tidak ada satu ma’mum pun yang mengumandangkan “Subhanallah”. Mereka tau rakaat salah, mereka tau imam terlupa, mereka juga sadar dalam posisi tasyahud akhir. Namun semua bangkit mengikuti imam tanpa ada yang menyanggah dengan tasbih.

Sang pemuda terperogok memikirkan solatnya yang amburadul, tasbihnya pun lemah ditelan takbir imam dan ‘terpaksa’ mengikuti kekeliruan berjamaah.

Usai salam, suasana di saf jamaah wanita gaduh. Terdengar suara mereka yang komplain terselubung kepada para jamaah pria yang – entah tidak tahu atau tidak khusu’ – membiarkan kekeliruan itu terjadi dengan lancar.

Sang pemuda menahan gemuruh didadanya. Matanya tertuju pada kertas yang tertempel di dinding. “Susunan jadwal ceramah subuh”. Ia lihat tanggal, nama penceramah dan ia hapal nomor teleponnya. Ia niatkan untuk meminta sang penceramah ‘menyentil’ jamaah mesjid ini esok pagi.

“Semoga berubah menjadi baik.” Ujarnya dalam hati.

—————————–()**()——————————-

Note for Tgk Dirundeng Mosque, Meulaboh

32 Tanggapan

  1. ya ya…semoga berubah menjadi baik…
    salam kenal ya…

    salam kenal kembali🙂

  2. Ganti aja perempuan yang jadi imam😀

    ntar kalo perempuan jadi imam, sesekali salah, malah ngegosip😀

  3. yang di simpang empat?kapan tu?wah..aku pindah2 Jay…mau ikot ga?malam ni mau ke meurebo Insya Allah….

    ikoooootttt

  4. Ya ampun…
    Parah bgt..

    akut😀

  5. memang harus diingatkan lagi jay, krn orang” saat ini sudah agak jarang melakukan shalat berjemaah.. jd tak paham cara menyanggah imam tsb.. takut salah.

    sekali setahun taraweh biasanya pasrah jadi makmum, tak peduli imam benar atau salah..

    betul juga bun…

  6. saya agak miris juga mendapati ketika shalat jumat di beberapa masjid jamaahnya tidak lagi memperhatikan kerapatan shaf.
    dalam ingatan saya, ustad ngaji pernah bilang kalo sela-sela antara makmum itu kalau renggang bakalan diisi oleh syaithon..

    mengenai jumlah rakaatnya, keknya sama-sama salah deh.:mrgreen: itu satu masjid udah ngantuk semua mungkin..:mrgreen:

    banyak juga ya pengalaman gini😦

  7. sayangnya sang pemuda ikutan tidak meneriakkan subhanallah…

    udah sih, cuma gak teriak, jadi gak denger

  8. waduh kk hebat k ke blog aku yaaa

    iya, tapi kayaknya url nya ada yang salah tu

  9. aduhhh….semoga besok lebih baik lagi ya…

    amin😀

  10. hohoho…apakah ini tradisi ewuh pakewuh?

    apa tuh ewuh pakewuh?

  11. waduh
    gmn sih

    parah deh

  12. Kalau sudah ngantuk semua mungkin jg jadi salah ya.
    Tapi kenapa si pemuda jg diam saja, mustinya dia teriak juga biar yang lain jg sadar dari ngantuknya….

    **eh di atas udah dijawab ya… udah teriak tp ga kencang? :p

    Kalau aku sih, drpd berharap orang lain memenuhi saf di depan, lebih baik aku duluan ke depan utk jadi contoh.

    Mudah2an taraweh malam ini gak ada salah lagi .

    emang mbak zee patut dicontoh😀

  13. kurang mengerti, numpang lewat aja deh🙂

    selamat berpuasa untuk umat muslim

  14. jack, lain kali berteriaklah keras2 : “hoi… berhenti..shalat diulang!!! masak sh 7 rakaat nggak sadar2?”
    dalam shalat jamaah sebenarnya sdh ada tuntunannya misalnya bagaimana memnetuk shaf yg benar, di belakang imam, mestinya bisa jd serep klo imam batal dsb…

    benar bang, makmumnya kali kurang pengetahuan semua

  15. wa Abang lagi tarawih nih???

    mwah mwah

    bahasa planet mana tuh😀

  16. Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

    salam cinta juga kang boed

  17. hmm blue mampir da lama banget tak tahu cabar abang
    salam hangat selalu

  18. lha si pemuda nya kok ga ngomong langsung

    ditempatku sering taraweh kelam
    karena pln sering matiin lampu
    payaaah

  19. coba diingatkan kalo ada kesalahan …

  20. Hm, lantas kenapa ga sang pemuda sendiri yang waktu itu ada di lokasi mengumandangkan Subhanalloh sebagai tanda kepada sang imam atas kesalahannya? He he he…

    Semoga semakin baik dari hari ke harinya ya… Sukses terus!!!

  21. huhehehe..asyik mas. Masih ada ternyata kekhilafan seperti itu. padahal saya menunggu2 terjadi di tempat saya, supaya saya yang berteriak nyaring “subhanallah-rakaat”. heleh..😆

    mmm…tapi kalau ngak salah, ucapan subhanallah hanya dialamatkan pada ibadah sholat wajib, ya?

  22. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa ^_^

  23. menjadi baik, lebih cepat lebih baik, ngutip slogan Pak JK,😀

  24. hmm, teguran yang sangat nyaman di kalbu sang pengiman serta jamahanya and blue like banget postinganmu sahabaty
    salam persahabatan yah
    salam hnagat selalu

  25. wah ternyata masih ada yang lebih parah ya,
    jika di daerah lain biasanya masalahnya hanya semakin
    berkurang jama’ahnya.

  26. Kadang memang susah disaat kurang khusuk sehingga kita lupa untuk mengingatkan imam kalau shalatnya salah

    salam mampir ke blog kami

  27. Ini kisah nyata atau fiktif,kalau kisah nyata waduh gawat masa kaga ada yg mau maju ke staf depan,coba kalau di dusunku terutama kalau shalat jum,at orang berubutan ke staf paling depan

  28. blue datang………
    salam hangat selalu

  29. wah gitu deh kalo sholat nya ga konsentrasi . hahaha

    mampir ya mas !

    http://27duatujuh.wordpress.com/

  30. sholat khusyu’ itu emang susah bgt…mank orang ” yang emang udah terpilih dan kuat imnnya yang khgusyu’ shalatnya…

    bukan terpilih barangkali, kalau kita berusaha pasti bisa🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: