Hikmah Reuni Kilat

reuni jaya dan tami

reuni jaya dan tami

11 tahun aku tidak pernah melihat raut wajahnya. Tiba-tiba hari ini dia muncul di depanku dengan gagah. Turun dari mobil double cabin yang diparkir di kiri jalan. Tubuhnya tegap dibalut pakaian yang rapi dengan sepatu boot yang menyembunyikan kakinya dan topi polos berwarna coklat. Tampak muda saja dia.

Sesaat kami saling bersalaman, tersenyum, lalu kuajak dia ke sebuah warung untuk mengobrol.

Ingatanku menyeruak ke masa lalu. Abu Hasan, teman saat SD dulu. 6 tahun kami habiskan di SD Negeri 010044 Damuli. Pulang sekolah selalu kami habiskan di parit-parit kecil, memancing ikan sepat dan gabus. Siapa dapat duluan atau lebih banyak jumlah yang didapat, pasti selalu iri-irian.

Selepas SD kami masing-masing berpisah. Aku melanjutkan ke MTS swasta di tempat nenek, sedangkan dia masuk pesantren. Ketika aku masuk MAN Kisaran, dia masih di pesantren. Ketika aku melanjutkan kuliah ke IAIN Medan, ia pergi melanjutkan pendidikan ke Jogja, mengambil pendidikan perkebunan.

Kini dia telah menjadi seorang yang disegani di perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan perkapalan. Tepatnya, controller. Kedatangannya ke Meulaboh dalam rangka tugas untuk mengontrol kinerja pegawai di perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berada di Nagan Raya. Katanya, produksi mereka tidak sesuai target. Jadi ia berkewajiban untuk menggalakkan kinerja karyawan di perusahaan itu agar target produksi tercapai.

Sayang, waktunya terbatas. Obrolan kami begitu singkat. Dia berjanji akan mampir lagi ke Meulaboh sebelum kembali ke Jakarta. Kuantar dia lewat pandanganku. Aku benar-benar kagum padamu Mi… (panggilan kecilnya dulu adalah Tami).

Sejenak aku terpekur, nasib memang beda-beda. Apa yang kita dapat adalah sesuai dengan apa yang diusahakan. Tapi takdir juga berperan. Terkadang usaha sekeras apapun kadang hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Begitupun aku masih bersyukur dengan hidupku saat ini. Sudah bekerja walau dengan gaji pas-pasan. Kedepannya aku harus banyak berbuat untuk perubahan dalam hidup. Paling tidak aku punya mimpi untuk mengusahakan hidup lebih baik. Apakah itu mendapat pekerjaan dengan kondisi yang lebih baik (maksudnya gaji dan fasilitas yang baik), atau melanjutkan pendidikan ke strata 2, menikah, punya anak 🙂

Semoga saja keinginan ini bisa terpenuhi. Ora et labora, berusaha dan berdoa jangan pernah tinggal, begitu kata teman chattingku. Aku juga harus ikhlas beramal, sesuai motto Departemen Agama. Agar sekecil apapun hasil yang didapatkan, tidak lupa bersyukur… Keep spirit to fighting in this wild world…

Iklan

7 Tanggapan

  1. Baca postingan di atas aku teringat lagi ma teman2 kelasku waktu MTsN yang semenjak perpisahan blm perna ketemu lagi,
    betul mas sekecil apapun pendapatannya jangan lupa bersukur padanya dan apapun profesimu jalanin aja dengan ikhlas dan serius.

  2. emang kalo ketemu temen lama yang dulunya akrab banget bisa bikin kita jadi gimanaaa gituuu…

    kadang segan ketemu, tapi kangenin. hehehe…

    Iya, tapi yang namanya teman lama pasti harus disambut dengan suka cita atas kehadirannya

  3. ikutan ora et labora deh
    🙂

    silahkan bro…

  4. menarik…

    terima kasih ya…

  5. iya sih. biasanya kan orang segan ketemu karena masih punya utang. hehehehe…

    makanya…

  6. mensyukuri nikmat pertemuan itu sama saja dengan meratapi sakitnya perpisahan.

    ya. disetiap pertemuan membayangi perpisahan. itu sudah kehendak Yang Maha Kuasa. karena kita tiada yang abadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: