Apa yang Dilakukan Saat Listrik Padam..?

imagesDi Meulaboh sejak satu tahun belakangan punya musim baru. Barangkali kalau dengar musim duren, musim layangan, musim panen, itu sih biasa. Lah ini lain, musim yang satu ini kayaknya nggak ada orang yang minat, yang ada malah umpatan, ngedumel dan caci maki yang datangnya spontanitas nggak pake Assalamualaikum. Pasti tau khan… Iya, MUSIM MATI LAMPU.

Yang tinggal di cuilan bumi bernama Aceh Barat ini pasti gondok (gondok yang satu ini bukan nama penyakit yang sering mojok di leher itu lho. red). Lihat aja sejak satu bulan ini sudah berapa kali mati lampu. Durasinya dalam satu hari itu kira-kira 4 jam (nih kalau tinggalnya diseputaran kota Meulaboh) lain lagi yang tinggal di pelosok desa. Katanya dari ba’da maghrib sampai pagi malah…

Tadi (24/4) barusan menghadiri diskusi “Urgensi Arus Listrik di Zaman Modern” yang diadakan salah satu LSM di kota Meulaboh. Diskusi tersebut banyak menyoal dampak kerugian yang ditimbulkan oleh pemadaman listrik bergilir yang dilakukan PLN Cabang Aceh Barat. Dalam diskusi itu ditampilkan testimoni hasil rekaman handycam dari beberapa pengusaha UKM yang ‘menderita’ akibat pemadaman tersebut.

Sedih sich… Rasanya pengen marah-marah sama PLN terus teriak-teriak “LAWAN… HANCURKAN…” (lho, kok jadi mahasiswa lagi). Tapi bukan itu yang dilakukan. Diskusi tersebut dilakukan untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut yang nantinya dibuat dalam bentuk rekomendasi dan ditujukan ke pihak PLN yang bertanggungjawab atas terabaikannya hak-hak Ekosob warga Indonesia. Wuih… (Apalah itu yang dibilang)

Keasyikan menyoal kerugian alias dampak negatif PLN yang membuat pelanggan seperti lagi dugem (duhhh… gemesnya) karena sering padam. Salah seorang peserta diskusi malah membuat kontroversi.

Dalam preambule-nya dia sedikit berpribahasa. “Sesungguhnya dalam setiap musibah itu ada hikmahnya, seharusnya kita mengambil hikmah dari musibah padamnya listrik.” Sontak peserta menoleh serius. Aku cuma cengengesan. Ini orang koq kayak gerbong yang keluar dari rel.

“Coba pikir. Selama ini kita selalu bekerja bekerja bekerja. Kita jarang memikirkan kondisi badan kita. Kapan waktu istirahat, kapan waktu refreshing. Kita terus saja bekerja sehingga kita lupa istri, anak.”

Peserta tersipu

“Begitu mati lampu apa yang selanjutnya dilakukan? Jika ia suami yang bijak, maka itulah waktu yang tersedia untuk ia berkumpul dengan keluarganya. Saat mati lampu ia bisa mengajak anak dan istrinya keluar menikmati indahnya malam sambil berbicara banyak hal tentang mereka.”

Aneh tapi bener juga.

Bagaimana pula dengan aku yang belum punya istri, apalagi anak. Apa pula hikmah yang kudapat dengan padamnya listrik. Apalagi aku sudah candu dengan arus listrik karena suka ngeblog dan pesbukan. Di kantor juga senjata pamungkasnya komputer yang semuanya membutuhkan arus listrik supaya bisa nyala.

Sejenak aku berpikir…  (Tiba-tiba bohlam di kepala nyala. Tapi redup gitu).

Kuperhatikan badanku. Berat badanku tidak ideal dengan tinggi tubuhku. Kepalaku sering migrain. Aku acap main kompi sampai larut malam. Kalau tidak, nonton DVD sampai larut malam atau nonton liga Spanyol sampai subuh datang. Waktu istirahat begitu banyak tersita.

Seandainya mati lampu. Aku harusnya menggunakan waktu itu untuk istirahat atau paling tidak keluar sejenak dari rutinitas lalu memperhatikan lingkungan sekitar, atau berkenalan dengan tetangga (sudah satu tahun aku di sini. Belum pernah sekalipun aku masuk ke rumah tetangga di samping kantor. Maksudnya bertamu gitu lho) tentu banyak pengalaman baru yang akan kudapatkan.

Ah. Aku sangat bergantung dengan listrik. Begitu juga warga lainnya, listrik sudah menjadi kebutuhan primer. Apalagi orang yang rezekinya dipengaruhi arus listrik seperti rental komputer, percetakan, tukang foto kopi, warung kopi, tukang jahit, reparasi elektronik, bengkel dan lain-lain.

Jika lampu padam ada sesuatu yang melompat dari mulut kayak a****g, t**k, e* **h dan banyak lagi. Biasanya warga kebun binatang dibawa-bawa. Seperti temanku yang tiba-tiba berteriak jorok saat lampu padam. Rupanya ia sedang mengerjakan tugas di komputer. Kasian…

Seringkali kita melihat hal buruk dengan keburukan. Mengumpati ketidaknyamanan dan menumpahkannya dengan caci maki yang tak berguna.

Entahlah. Aku juga tidak bisa begitu. Hari ini dan seterusnya aku selalu berdoa agar listrik tidak mati lagi.

11 Tanggapan

  1. Mati lampu itu musim yg paling aku benci dalam hidupku he,he,he,.
    kalau kita kembali ke jaman purba,”uih jauh bnget kebelakang tuh,”.
    blm ada namanya musim mati lampu,eh,ko,aku jadi ngelantur shi

    🙂 jaman purba dulu gak perlu pake lampu, cukup pake kunang-kunang aja. hehe

  2. kalo mati lampu enakannya yg pasang lampu emergency

    salam kenal, makasih dah mampir di blog aku😀

    sarannya manteb,,, terima kasih kembali

  3. Musim yg unik tapi bikin orang gemes..he..he. Postingan yg menarik. Salam kenal ya mas.

    gak juga gemes, kalo sering-sering malah bisa didemo… makasih udah mampir

  4. mati lampu..moga terang selalu

    mati lampu yang ada cuma gelap

  5. Apapun alasannya, memadamkan listrik bukan cara yg bijak di negri ini.

    bener banget, cara yang bijak adalah memadamkan lampu saat tidak digunakan🙂

  6. Memang mati lampu itu membuat kesal,bukan cuma aktifitas terganggu,tapi juga harus was-was,deg-degan,karena banyak sekali berita mengenai keteledoran orang yg memasang lilin / lampu yg akhirnya menyebabkan kebakaran.

    tidak ada kompensasinya lagi…

  7. tuh PLN harus di tegur dan diingatkan Bang Biar ga begitu terus🙂
    Kalau dibiarkan nanti mereka sanytay2 saja😀

    Salam🙂

    Iya, media lokal udah rame juga ngomongin gini, moga mereka cepat sadar dan listriknya cepat pulih

  8. iya aku juga benci mati lampu,, apalagi kalau lagi enag enag berselancar di dunia maya.
    good posting jaya🙂
    lam kenal yah, mampir mapir donk

    Benci (benar-benar cinta) ya…
    makasih🙂, langsung ke TKP nih

  9. terus terang … PLN tidak terus terang …

    haha,,, benar juga

  10. emang pemadaman listrik bikin gemes ati..:-)

  11. wah asik dong libur di pantai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: