Maulid di Aceh itu Ternyata Unik loh

maulid-5Diantara kita tentu tidak asing dengan kata Maulid. Biasanya kalau mendengar kata maulid maka yang ada di benak kita adalah peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw. yang jatuh pada tanggal 12 rabiul awal setiap tahun hijriah di mana peringatan tersebut diisi dengan beraneka kegiatan islami seperti ceramah, nasyid, membaca al-qur’an dan sebagainya.

Lain lubuk lain ikannya. Kebiasaan di suatu tempat tentu berbeda dengan di tempat yang lain. Seperti itu yang kutemui saat menyaksikan acara maulid di Meulaboh. Banyak perbedaan yang kusaksikan dengan mata indahku ini.

Aku dan beberapa teman menerima undangan Maulid di Desa Peunaga Cot Ujung, Kec. Meureubo Kab. Aceh Barat. Berhubung memenuhi undangan itu wajib, jadi kami pun datang dengan niat tulus dan ikhlas. Kusematkan sebuah kamera digital di saku. Siapa tau ada objek menarik untuk dieksploitasi.

Begitu sampai di lokasi – acara maulid itu diadakan di halaman salah satu sekolah SD Peunaga Cot Ujung – ku lihat sesuatu yang belum pernah kusaksikan sebelumnya. Benar-benar unik, menarik dan… sungguh perhelatan seni tingkat tinggi… ck… ck… ck…🙂

Banyak orang berkumpul membentuk lingkaran (tidak lingkaran bulet gitu sih, cuma saling berhadapan). Semuanya laki-laki yang terdiri dari orangtua, remaja dan anak-anak. Lingkaran itu merupakan kelompok orang yang berasal dari desa yang berbeda (kata seseorang yang kutanya di tempat itu).

maulid-1Kira-kira saat itu ada 5 kelompok, artinya ada 5 kelompok warga dari desa-desa yang berbeda. Disitu, mereka melantunkan semacam shalawat kepada baginda Rasulullah dan ahlul bait.

Menurut salah seorang warga yang ada disitu, para warga yang melantunkan sholawat ini tahan hingga berjam-jam. Saat saya mengambil gambar ini, jarum jam menunjukkan pukul 16.00 wib, sedangkan acara lantunan sholawat ini dimulai pukul 14.00 wib. Sudah dua jam mereka melakukan aktivitas tersebut.

walau hawa panas menyengat, peserta tetap semangat

walau hawa panas menyengat, peserta tetap semangat

Ini semacam wiridan atau kenduri yang pernah kuikuti dulu, umumnya dilakukan oleh masyarakat Islam suku Jawa. Perbedaannya terletak pada materi yang dibaca (dilantunkan), ada gerakan tertentu (seperti gerakan menghentak tubuh dan berdiri) dan acara pembagian makanan yang dibawa masing-masing dari Desa dengan wadah yang terbuat dari anyaman bambu atau kayu dan macam-macam (gak tau lagi mo nulis apa… gak sempat wawancara) dilapisi kain berwarna. Di dalam wadah itu ada nasi dan lauk pauknya. Selesai acara makanan tersebut dibagikan ke hadirin dan undangan.

Beginilah salah satu bentuk wadah makanan yang dibagikan kepada undangan dan hadirin yang mengikuti sholawatan itu

Beginilah salah satu bentuk wadah makanan yang dibagikan kepada undangan dan hadirin yang mengikuti sholawatan itu

Aku gak tau apa nama ritual sholawatan itu (ada yang tau nggak?). Belakangan ku tahu ada yang menyebutnya kenduri maulid, tapi apapun namanya, kita ternyata punya berbagai cara untuk mengungkapkan rasa cinta kita kepada Rasulullah saw.

Dari acara itu ada beberapa hal yang menurutku menarik:

1. Sholawat yang dibaca itu kenapa lebih banyak menyinggung keluarga ahlul bait? Sering sekali aku mendengar kata Hasan dan Husin. Barangkali ini yang dikatakan Aceh Syiah itu ya…

2. Ada gerakan tertentu dalam ritual itu, seperti duduk berdempetan dengan tangan diletakkan di atas paha, lalu ada gerakan berdiri dan setiap orang meletakkan tangannya di bahu rekannya dengan membentuk lingkaran sambil tetap membaca sholawat. Setiap kelompok didampingi seseorang yang berdiri, tugasnya ngapain tuh ya, kayaknya menyemangati sambil ngipas-ngipas gitu (tampak di gambar). Memang saat itu cuaca panas banget.

3. Ada hidangan yang dibawa dengan tempat yang dibuat sedemikian rupa berbentuk kubah. Didalamnya kita menemukan berbagai makanan. Ada nasi, ayam goreng, telur ayam, ikan tongkol goreng, macam-macamlah. Kabarnya makanan yang dibawa dari masing-masing desa itu nantinya akan ditukar dengan desa yang lain.

4. Acara ceramahnya dilakukan pada malam harinya. Namun tidak lagi mengundang warga dari desa-desa lain.

Sebenarnya pengen tau sejarah istiadat kenduri maulid ini, tapi belum ketemu sumbernya yang bisa dipercaya.

Selesai acara tersebut, aku dan teman-teman dipanggil tengku setempat. Kami disuguhi kopi dan mendapat jatah makanan maulid tersebut. Uenak… uenak… uenak…🙂

8 Tanggapan

  1. seringkali kita terjebak pada acara seremonial yang tidak mengandung substansi apa-apa..kita lebih bangga islam sebagai simbol budaya ketimbang agama itu sendiri..berapa banyak orang yang berlomba-lomba menghadiri maulid tapi tidak ada yang betah ketika adzan dikumandangkan untuk tinggal dan menunaikan shalat…

    saya juga masih sering terjebak hal beginian, terima kasih bro nasehatnya. Watawashoubilhaq…

  2. tiap daerah emang berbeda-beda adatnya…. samo sajo dijawa pun jugak beda sama di Aceh….

    iya, setubuh… eh setuju. Tapi cerita lah awak sikit maulid di jawa macam mano…

  3. mulod oh mulod….
    pajoh mangat sabe…

    kan cuma setaon sekali

  4. Memang ada peninggalan2 jaman kuno Aceh yang menunjukkan bahwa dulu Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia melalui Aceh adalah Islam Syiah.

    Thanks infonya bro…

  5. Acaranya pasti seruh nih soalnya sehari ampai malam tuh,kalau di kotaku peringatan maulid kita rayakan paling lambat 3 jam aja mas.

    Seru donk, apalagi ada makan-makannya🙂

  6. Aku uda pasang juga linknya mas di blog aku

  7. Kalau Maulid yang enak ya makan2nya… Apalagi dengan teman2 sekampung… Seru…

  8. Jujur, bagus sekali tulisan ini, santai dan baik penuturannya….

    salut…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: