Bermimpi jadi Pe En Es

Seminggu di kampung halaman ternyata belum cukup, rasanya masih pengen berlama-lama menghabiskan kejenuhan yang telah bersemayam selama tiga bulan. Namun pekerjaan tidak bisa ditinggalkan. Aku harus kembali, memenuhi kebutuhan diri.

Angkutan umum membawaku melesat membelah jalanan kota Lubuk Pakam menuju Medan. Didalamnya sudah ada tiga orang penumpang. Ibu-ibu berseragam kecoklatan. Tak salah lagi. Mereka PNS yang baru pulang menjalankan tugas sebagai abdi negara.

Anganku terbang sejenak. Sungguh enak menjadi PNS. Punya seragam sendiri, sudah pasti mendapatkan gaji kendati bekerja tidak maksimal, dan pada umumnya masyarakat menilai bahwa PNS adalah ukuran kesuksesan seseorang.

Menjadi PNS katanya hidup sudah terjamin. Walau sudah pensiun karena memasuki usia yang sudah tidak produktif, namun tetap dibayar. Pantaslah banyak orang berlomba-lomba menjadi PNS. Bahkan dengan menghalalkan segala cara, mulai dari menyogok, memanfaatkan orang dalam, menyewa joki untuk mengerjakan soal-soal ujian. Hemm…

Tampaknya sore ini memang jamnya PNS pulang. Di depan kantor-kantor pemerintahan pegawai berderet rapi menunggu angkutan atau sekedar ngerumpi. Penumpang di angkot yang kunaiki semakin disesaki PNS, semua ibu-ibu. Tampaknya taraf hidup mereka menengah ke atas, kulihat dari gelang dan cincin yang menghiasi anggota tubuh mereka. Besar dan berkilau. Biasanya kalau si isteri seorang PNS, suami juga PNS atau lebih tinggi status pekerjaannya dari isterinya.

Angkotku berhenti lagi menaikkan penumpang. Seorang Ibu dengan anak laki-lakinya yang tampak berusia sekitar 4 – 5 tahun menambah deretan penumpang. Ibu-ibu PNS yang berbokong besar semakin merapatkan duduknya, menyediakan sedikit ruang untuk Ibu yang baru naik. Angkot melaju, tubuhpun saling bergencet.

“Sini aja kau nak, dekat ibu ini. Biar nular PNSnya sama kau.” Kata si Ibu yang baru naik pada anaknya. Ibu-ibu PNS tertawa. Si Ibu bukanlah bersenda. Tentu dia jujur ingin anaknya kelak menjadi seorang PNS, terpandang di mata masyarakat dan tidak susah mencari kerja kesana kemari seperti aku.

“Cukuplah Ibu yang jadi PNS, kalo Bapak lebih bagus kerja di swasta saja.” Kata salah satu Ibu PNS berambut sebahu.

“Iya, habis gajian, udah tak nampak uangnya.” Tambah rekannya yang berlipstik tebal.

Selanjutnya obrolan mereka semakin berwarna. Ada ketidakpuasan ternyata menjadi seorang PNS, tentu saja bila ditilik dari jumlah gaji yang mereka terima. Itulah sebabnya banyak orang berfikir bahwa rumah tangga yang hanya mengandalkan gaji sebagai PNS sulit mencukupi kebutuhan rumah tangga. Kecuali keduanya (suami dan isteri) berstatus PNS.

Tapi seperti yang kutangkap diawal. PNS tetaplah salah satu profesi primadona masyarakat Indonesia. Setiap orangtua menginginkan anaknya menjadi PNS. Mahasiswa yang baru menyelesaikan D1, D2, D3, S-1 berbondong-bondong mendaftarkan diri di lowongan penerimaan CPNS. Rasanya bila tidak menjadi PNS, seseorang belumlah memiliki kesempurnaan hidup.

Berapa banyak orangtua yang menolak pinangan seorang pemuda yang ingin menikahi anak mereka hanya karena dia bukan PNS. Berapa banyak orang yang menanti-nantikan lowongan PNS di setiap tahunnya. Berapa banyak orang yang rela menjadi tenaga honorer bertahun-tahun dengan gaji yang tak manusiawi berharap nantinya diangkat menjadi PNS.

Aku ingat kata Pamanku yang kujenguk sebelum kembali ke tanah rantau, “Tampaknya kau harus mencari pekerjaan yang permanen. Usiamu sudah berapa? Tidak mungkin kau terus begitu. Kau kan perlu menikah. Berkeluarga.”

Aku tersenyum dan membenarkannya dalam hati. Pekerjaanku yang pakai sistem kontrak memang membuat ketar-ketir di penghujung tahun. Siap-siap mencari lowongan baru.

“Perempuan kan butuh hidup mapan.” Tambahnya lagi. Aku semakin tersungging saat mendengar kicauannya.

“Apa tak coba ikut melamar penerimaan CPNS disana?”

Aku larut kata-kata paman dan peristiwa di angkot. Tiba-tiba aku membayangkan diriku memakai seragam PNS yang rapi. Duduk dibelakang meja sambil bermain solitaire atau menggoda gadis diseberang meja.

5 Tanggapan

  1. betol jek,jadilah pns kalo mau digaji seumur idup.

    pake nyogok nggak???

  2. Lebih baik menciptakan pekerjaan daripada menggantungkan hidup dari pemerintah.Syukur-syukur bisa membuka lowongan pekerjaan untuk orang lain.Kayaknya itu lebih ‘ideal’ buat saya… Salam

    Idealnya sih gitu mbak… sayanya juga gak kepengen jadi PNS… cuma pengen berbagi bagaimana sudut pandang masyarakat disekitar kita terhadap profesi PNS

  3. Yalah Jay, tahun ini kau harus melamar …

    melamar anak orang ya …

  4. kalau bisa kita menciptakan lapangan kerja sendiri itu malah bisa membantu yang lain …

    iya nih, mau buka lapangan kerja, kira-kira usaha apa ya…

  5. salam kenal bos..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: