Akhirnya Aku Tidak Mencontreng

mencontrengAda salah seorang teman blogger yang membuat tulisan berjudul “Akhirnya Aku Mencontreng”. Bukannya latah pengen ikut-ikutan, cuma aku mau sedikit berbagi kalau aku mengalami kejadian sebaliknya. Akhirnya aku tidak mencontreng.

Entah sudah beberapa kali, seolah tidak belajar dari pengalaman, sistem administrasi negeri ini belum juga berjalan dengan baik. Di Pemilu 2009 (5/4/09) yang baru usai telah didapati berbagai informasi baik dari media elektronik dan media lokal permasalahan yang muncul berkaitan dengan sistem pencatatan pemilih yang amburadul, contohnya; ada nama pemilih yang sudah meninggal mendapatkan undangan untuk mencontreng, ada yang belum berusia 17 tahun juga mendapat undangan mencontreng, di beberapa wilayah ada yang kehilangan kertas suara sampai 500 lembar, ada yang penduduk asli tidak mendapatkan undangan memilih… Tentu masih banyak masalah lainnya yang terjadi dan itu menjadi pe-er yang tak selesai-selesai.

Aku termasuk korban dari lemahnya sistem administrasi pemilu 2009. Bayangkan saja (gak dipaksa sich), Daftar Pemilih Tetap (DPT) di tempatku (Sekip, Lubuk Pakam) dibuat berdasarkan data tahun 2004, terang saja namaku tidak masuk, karena aku mengurus KTP di Lubuk Pakam Sumatera Utara sekitar tahun 2007 akhir.

Kalo DPT dibuat berdasarkan data penduduk tahun 2004 pasti tau sendiri kelemahannya kan… Tapi ya sudahlah, satu suara telah hilang, padahal aku pengen nyontreng, sebagai tanda bahwa aku adalah warga negara yang baik dan taat hukum. Apalagi ada calon pemimpin yang baik, tentu sayang kalau dia tidak terpilih hanya gara-gara satu suaranya yang kurang. (Wuih… berarti banget suaraku).

Untuk menghibur diri, aku pun keliling kota naik sepeda motorku yang cicilannya setengah tahun lagi baru lunas. Tapi kadang nafas tetap sesak juga karena melihat TPS dimana-mana. Sesekali kudengar suara dari mikropon sayup-sayup

“Partai A, Caleg B. Sah…”

“Sah…” Teriak saksi-saksi.😦 … TPSnya disebelah mesjid dan saat itu adzan baru saja berkumandang. Kebetulan aku singgah di Mesjid ini untuk rehat dan sekalian solat maghrib.

Selesai solat aku melanjutkan perjalanan. Pulang. Ditengah jalan itu pikiranku tetap bekerja, tapi ya tetap seputar pemilu ini. Begini… Pemilu tahun 2004 seingatku kita mencoblos, sekarang kita mencontreng. Dulu kita juga menggunakan kartu pemilih. Tentu banyak sekali dana yang dihabiskan untuk membuatnya. Sekarang kita hanya diberi kertas fotokopian selembar yang isinya bahwa nama yang tertulis disitu diundang pada jam sekian untuk mencontreng di TPS nomor sekian. Dengan modal kertas tersebut seseorang warga negara memiliki hak untuk mencontreng di TPS yang sudah ditentukan dan tentunya di TPS dimana dia tercatat sebagai penduduk di tempat itu.

Masalahnya adalah bagi orang-orang perantauan seperti aku ini. Di tanah perantauan ini namaku tidak tercantum di DPT dan malangnya di kampungpun namaku tidak masuk dalam DPT. Seharusnya untuk mengatasi masalah ini, kenapa petugas tidak langsung mendata saja door to door. Baru setelah dipastikan jumlah keluarga yang berhak mencontreng langsung diberikan undangan. Kalau datanya tidak update tentu nama orang yang baru meninggal bisa saja mendapat undangan mencontreng, atau penduduk baru bisa saja tidak mendapat undangan.

Ideku sih sederhana, agar pemilu tidak banyak menghabiskan banyak uang rakyat. Sebaiknya setiap warga negara asal dapat dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Nasional dia dibolehkan memilih ditempat dia tinggal. Jadi seperti saya ini yang sudah setahun tinggal di perantauan tidak harus pulang kampung gara-gara Pemilu. Ongkos mahal coy…

Kira-kira ideku ini bisa diterima pemerintah nggak ya…

Roda depan dan belakang sepeda motorku terus berkejar-kejaran. Jalan berlubang dan berbukit-bukit sukses dilewati. Hawa malam yang dingin semakin kencang menerjang tubuhku. Aku menggigil. Brrrr….. Tetap saja aku melihat TPS, tetap saja aku mendengar suara mikropon panitia pemungutan suara. Aku semakin memacu agar segera tiba di rumah, menonton acara hiburan di tivi atau apa saja.

Malangnya… Semua acara televisi memutar hasil pemilihan umum. Penyiar tivi tak henti-hentinya mengabarkan kondisi TPS dan hasil pemilu dari berbagai daerah, running text semua berisi perolehan suara partai. Aaarghhh… Benar-benar membosankan.

7 Tanggapan

  1. kasian..kasiaan..kasiaaan..kasiaaaan..kasiaaaaan…!

  2. gak papa mas, yang penting bukan kesalahan kita kan…?

    Iya, tapi kalo gak segera diperbaiki, bisa-bisa gak ikut nyontreng lagi waktu pilpres

  3. Bro… Tukeran link yuk…..

    Udah di tuker, liat aja di samping

  4. Kenapa kamu tdk mencontreng bro

    kan udah diceritain tuh di atas bro

  5. kunjungan perdana salam kenal, wah kalo aku mah sengaja tuh gak nyontreng,😀

    Golput dunk

  6. Eh ‘ ada yg lupa, di tempatku orang2 baru mau nyontreng asal di bayar hehe

    hati-hati loh, nanti yang dicontreng gak terpilih bisa gila, stress…

  7. DPT memang bermasalah. untuk itu, segera Daftar ke Sekretariat PPS di Kantor Desa guna Pemilu Presiden nanti. oke!

    oh iya, liputan Pemilu Legislatif ditempatku bisa ditengok di sini ni…

    salam IWITNESS🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: