Manusia Celaka

solat2Ternyata, mengajak orang untuk berbuat baik itu lumayan berat loh, selain tantangannya bejibun. Alasan penolakan juga kadang gak masuk di akal (kata aku sich).

Tadi ngajak temen buat solat jumat. Udah jam setengki satu dia masih asyik mencet-mencet kibot. Bak seorang al-ustadz. Dakupun menyeru mereka

“Woiii… Solat Jumat yok!” Aku teriak-teriak sambil menuju kamar mandi. Lah, udah ada orang.

Kalo di tempat aku (tempatnya off the record aja ya) ada kira-kira dua orang temen yang susaaaaah banget diajak solat. Alasannya macem-macem, kalo minggu lalu alasannya banyak tugas, minggu lalunya lagi alasannya capek. Kalo minggu ini alasannya apa ya…

Kalo minggu ini sih kayaknya yang nggak solat ndaftar satu lagi. Si M baru aja datang dari Meureubo, biasanya dia agak susah juga diajak solat. Ini bisa jadi objekan juga kayaknya (objek dakwah gitu loh).

Katanya kan temen yang baik itu teman yang selalu menasihati temannya, mengajaknya ke jalan yang benar, bukan mengajak ke jalan yang sesat. Kebenaran itu harus disampaikan walau pahit. Begitu kata Baginda Nabi Muhammad. Kalo kebenaran pasti manis dan berlimpah pahala, yang pahit itu balasan yang mungkin kita terima dari orang yang gak terima dinasehatin. Sukur kalo dicuekin, lah ini malah dicaci maki dan dibilang sok suci.

Tapi karena teman ya tantangannya gak berat-berat amat, orang amat aja gak berat…🙂 Kalo temen-temen ini diajak solat jawabannya pasti cengar cengir. Lalu berkata

“Lagi males Jek, kirim salam aja ya.” Wah, ini namanya pelecehan. Emang kirim salam itu bisa menghapus kewajiban. Sukur-sukur kirim salamnya gak dibalas malaikat Izrail.

Si M yang sedang beranjak dari ruang kompi (komputer loh maksudnya) kuajak solat. Kan bener… jawabannya cengar cengir sambil mendongak melihat jam dinding di atas kepalanya. Karena udah sedikit kesal, langsung aja kukasarin dia.

“He… katanya orang Islam, tapi koq nggak solat.”

Entah karena takut melihat aku marah atau hatinya yang tergerak, ia lalu berteriak-teriak minta ditungguin. Aku pun menunggunya dengan senang hati.

Di perjalanan menuju ke Mesjid Tgk. Dirundeng aku melontarkan pertanyaan padanya.

“M, kenapa kau koq susah kali kalo diajak solat?” Tanyaku singkat, terbawa juga logat medanku.

Lama gak dapat jawaban. Aku menduga dia sedang mencari jawaban yang tepat. Kulihat roman wajahnya. Hanya senyumnya yang diobral kearahku. Busyet… Ditanyain koq malah cengengesan.

“Aku bukannya gak mau solat bang.” Dia mulai buka suara.

“Jadi?” Pancingku

“Aku solat kalo lagi sedang dalam masalah, atau takut akan terjadi sesuatu yang buruk terjadi sama aku. Tapi kalo aku lagi gembira atau lagi senang-senang, aku gak ingat lagi solat.” Terangnya, tapi tetap aja sambil senyum… tertahan. Kayak cewek lagi datang bulan donk, ada liburnya.

Aku terdiam. Pasti pernyataan M itu jujur dan apa adanya. Alasannya juga masuk akal dan tentu alasan seperti ini yang banyak menghinggapi teman-temanku yang lain. Masih sukur dia ingat Tuhan saat lagi kritis. Kalo yang lain memang sama sekali gak mau ingat.

Aku jadi teringat dengan sebuah buku yang pernah kubeli di arena bazaar di Auditorium Kampus Unsyiah. Judulnya “Tuhan Singgah di Pelacuran.” Isinya sih semacam kumpulan pengalaman-pengalaman pelacur di Jawa yang bertaubat setelah mendapatkan pengalaman spiritual.

Ya jelas beda sama kasus ini. M bukan pelacur juga gak melakukan dosa yang besar (setau aku dia ini baik hati, cuma urusan ibadah solat aja yang bolong-bolong… Eh, yang bilang juga solatnya belum sempurna koq).

Tak terasa kaki sudah melangkah di halaman mesjid dan akupun berbaur dengan jamaah-jamaah lain, menjalankan rukun solat jumat.

Pulang dari mesjid aku membawa oleh-oleh. Kata khatib, Nabi Muhammad berpesan bahwa tanda manusia yang merugi, buruk atau celaka itu ada empat:

pertama, manusia yang selalu lupa akan kesalahannya. Kedua, manusia yang selalu menceritakan kebaikannya pada orang lain. Ketiga, manusia yang selalu melihat ke atas dalam hal duniawi. Keempat, manusia yang selalu melihat ke bawah dalam urusan ukhrowi.

Pulang solat kuingat terus pesan spiritual itu. Kuresapi dalam sanubari, ternyata… poin satu sampai empat gak jauh-jauh dari aku. Artinya, aku termasuk manusia yang merugi, manusia yang buruk (catatan amalnya) dan manusia yang celaka.

Ah, aku jadi malu pada diriku sendiri…

2 Tanggapan

  1. gambarnya lucu….
    yang penting bang Abdi jangan pernah putus asa, dekatkan hati kita dimana saja (bertasbih) untuk selalu mengingat-Nya.

    karena kita memang tidak lepas dari dosa dan khilaf🙂

    Terima kasih nasehatnya Aulia🙂

  2. tetap usaha ya bujukin teman-temannya sholat … jangan menyerah … TETAP SEMANGAT!

    Wah, kalo banyak yang nyemangatin gini, jadi maju terus pantang mundur🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: