Facebook dan Penjual Roti

facerotiDunia maya memang banyak memberikan kenikmatan berkomunikasi antar sesama netter. Tak peduli walau seseorang itu berada di belahan bumi lain, ia tetap bisa berkomunikasi dengan menggunakan fasilitas komunikasi semacam friendster, twitter, yahoo messenger, dan yang jadi trendsetter saat ini adalah facebook.

Facebook bagai magnet yang banyak membuat jutaan orang terpedaya dengan fasilitas yang ditawarkan. Lewat facebook seseorang dapat langsung chatting dengan teman-temannya yang sudah lebih dulu diconfirm, bisa mempublikasikan tulisan dan gagasan kepada seluruh pengguna facebook, mudah menyampaikan isi kepala kita dengan sederhana, memberikan komentar-komentar kepada orang lain di dindingnya, masih banyak lagi yang ditawarkan sehingga pengguna facebook  seringkali tidak sadar bahwa sebagian besar waktunya habis untuk berfacebook.

Aku barangkali termasuk korban facebook, hampir setiap hari rasanya gak afdhol kalo belum buka facebook. Betapa senangnya ketika melihat dinding kita sudah ditulisin oleh teman, mengkomentari pikiran atau gagasan kita, bahkan ejekan dan guyonan mudah diapresiasikan disitus jejaring sosial tersebut.

Aku senang ketika menemukan teman baru lalu menuliskan – walau sekedar – say hello, hi, salam kenal dsb. Memandangi foto-foto indah pengguna dan berusaha untuk mengenal lebih jauh, menikmati kotak pesan yang hanya terjawab dengan hi juga, terima kasih udah diconfirm... padahal entah berapa menit waktu dihabiskan untuk sekedar membacanya.

Aku begitu ingin mengenal seseorang lebih jauh, membongkar semua info tentang dirinya, statusnya dan semuanya yang mudah sekali ditemukan karena tidak ada privasi disitu.

Aku begitu mudah menghabiskan waktu berjam-jam, melupakan pekerjaanku yang sedang menunggu deadline sekedar memelototi kalimat-kalimat semu di monitor. Belum lagi jika ikut terjerumus ke dalam lembah games, tak ayal setiap detik mata dan jemari tak akan lepas dari layar.

Aku seperti orang paling sibuk di dunia, margaku berubah menjadi simatupang (siang malam tunggu panggilan), menunggu dan membuka new message di email, penasaran sekali… kata apa sih yang terdapat didalamnya.

Aku kini mudah jika ingin mengatakan sesuatu kepada teman di kantor. Tidak harus beranjak dari tempat duduk, tinggal mengirimkan pesan ke milis yang sengaja dibuat atau lewat chatting box lalu apa yang kuinginkan langsung mereka terima dan langsung ditanggapi. Aku tidak menyadari bahwa aku membuat sekat-sekat dengan teman sendiri, menghilangkan hubungan emosional yang biasanya terbangun saat aku berhadapan langsung dengan teman-temanku.

Aku memiliki banyak sahabat di dunia maya, dari berbagai daerah, dari luar negeri, dari berbagai suku dan dari berbagai status, tapi itu dunia maya yang layaknya fatamorgana. Aku lupa dengan dunia riil yang ada di depan mata, lupa dengan lingkungan sekitar, tak kenal lagi saudara sedarah yang jauh di luar propinsi yang tak sempat kutanya kabarnya… Apakah dia baik-baik saja disana?

Tadi baru saja aku tersadar, seorang penjual roti yang setiap hari lewat di depan rumah, yang setiap hari kubeli rotinya untuk sarapan

TERNYATA…

Aku tak pernah menanyakan namanya, asalnya, umurnya dan… dan… sungguh berbeda dengan apa yang kulakukan saat berinteraksi di dunia maya.

Pagi ini kuresapi hidup dengan melihatnya dari terali jendela, menghapal langkahnya yang gontai, raut wajahnya yang letih, nafasnya yang terengah, pakaiannya yang kumal, sepatunya yang koyak, terompetnya yang nyaring memanggil berulang-ulang seolah berteriak…

“BELI… BELILAH ROTIKU INI… UNTUK MAKANKU ESOK HARI…”

“Tak tahukah kau kawan… Untuk makan saja sulit, apalagi untuk sekolah. Maka jangan heran. Wajahku yang belasan ini sudah dimakan debu jalanan dan dipanggang kerasnya hidup.”

“Maka bersyukurlah kau kawan, tidak merasakan panas terik dan dingin hujan. Tidak merasakan bahumu yang lecet digesek pikulan gerobak roti. Tidak dipusingkan dengan puluhan roti yang tak laku. Tidak lagi memikirkan bagaimana mengisi perutmu besok hari.”

“Terimakasih kawan sudah membeli rotiku.”

Aku bergeming ke sudut kamar. Kutersadar bahwa nikmat Allah itu sangat besar sekali…

Iklan

9 Tanggapan

  1. wohoho… mirip dengan sudut pandang yang berbeda..

    iya, seperti pepatah, lain kepala lain isinya.. 🙂

  2. sebuah narasi yang sungguh memberikan arti yang penting bagi kita yang masih hidup di dunia ini 🙂

    Kesibukan pribadi seringkali menyita waktu dan perhatian kita terhadap keadaan di sekeliling kita… Terima kasih Aulia 🙂

  3. dan akupun terharu…

    kalau merasakannya sendiri akan lebih terharu bro…

  4. Husyi! Roti yang beraroma SARA ini …

  5. berjam2 waktu dihabisin hanya untuk berinteraksi dengan kawan2 di dunia maya membuat kita tak mengenal lagi dunia real yang kita jalani skrng. sebenernya kita menyadari nya tapi karena begitu asyiknya membuat kita jadi “melupakan” realita nya. dengan seorang tukang roti keliling aja Allah telah membuka mata kita.

    Terima kasih mbak dewi, coment mbak dewi adalah pesan moral yang ingin disampaikan.

  6. kalo menurutku facebook emang mantap banget
    apalagi buat blogger sepertiku

    abis
    banyak banget fitur2
    buab blog kesayanganku
    🙂

    Bener bro… tapi btw, pembuat pesbuk sendiri orang Yahudi loh, gimana tuh bro…

  7. kita harus tau kondisi sekitar kita, masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih buruk dari kita..

    Kata-katanya sungguh menyentuh, terima kasih

  8. Wah..ternyata banyak yah yang posting berjudul “Facebook dan…..”

    hehehe..

    Wandaktausaya… niatnya sih cuma nulis yang dialami dan di kepala saja… 🙂

  9. ….. ya udah jangan baca tulisan ini lama-lama cepat turun dari singgasana … lakukan apa yang seharusnya dilakukan …. waktu terus berlalu dengan cepat meninggalkan semua … demi waktu ia begitu berharga hanya untuk bersenda gurau ………………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: