Ngaji Yuk… Islam Kaffah

Aku mendapatkan siraman rohani dari seorang khatib saat solat jumat tadi. Sayangnya banyak perkataannya yang benar-benar lenyap begitu saja dari pikiran ini. Bukan karena mengantuk bukan pula karena melamun. Tapi bahasa yang diucapkannya itu tidak aku mengerti.

Tuan Khatib lebih banyak berpesan dengan bahasa ibunya alias bahasa Aceh. Sedangkan aku belum bisa berbahasa Aceh. Jika dihitung-hitung, sudah dua tahun aku tinggal di Aceh. Namun hingga saat ini hanya beberapa kosa kata yang bisa kufahami, itu pun sesekali lenyap entah kemana. Kukesampingkan egoku. Akulah yang malas belajar, padahal kendala seperti sangat sering terjadi.

Walau begitu. Ada beberapa pesannya yang sempat kusimpan dimemory kepala ini…

Udkhuluu fissilmi kaaffah… Masuklah anda kedalam Islam secara keseluruhan… (al-Baqarah: 208)

Ayat di atas diserukan Allah kepada Orang-orang yang beriman. Tentunya hanya orang-orang yang meyakini Allah, Rasulullah, Malaikat, Kitab-kitab yang diturunkan kepada Nabi-Nya, Hari kiamat dan qada qadar yang menyahuti panggilan tersebut. Hanya orang-orang yang berimanlah yang akan mencapai kesempurnaan islam… Lalu bagaimanakah yang dikatakan masuk kedalam islam secara menyeluruh atau sempurna…

Mengucapkan dua kalimah sahadat

ikrar seorang hamba bahwa hanya meyakini Allah sebagai Tuhan dan tidak menyekutukan-Nya kemudian berikrar bahwa Rasulullah Muhammad adalah rasul terakhir. Sebagai hamba Allah maka kitapun harus melaksanakan apa yang menjadi tugas kita sebagai hamba Allah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Allah telah menitipkan al-Qur’an dan Sunnah sebagai petunjuk bagi kita dalam mengarungi kehidupan ini dan akhirat lah sebaik-baiknya tempat kembali.

Mendirikan sholat

Keislaman kita ditandai dengan ibadah fisik seperti sholat. Mengerjakan sholat hukumnya wajib, namun ada keringanan pada saat tertentu yang telah diatur dalam al-Qur’an maupun hadits Rasul. Ibadah sholat bernilai atau tidak bergantung pada individu itu sendiri. Urusan solat tidak hanya menyangkut niat dan rukun solat lainnya. Tapi sebelum itu. Apakah kita benar-benar suci dari hadats besar dan kecil, memperhatikan kesempurnaan wudhu’, kesucian pakaian, tempat sholat.

Hal-hal itu bukan ingin merepotkan seseorang yang ingin beribadah. Barangkali jika ingin sedikit mengambil perbandingan, ketika ingin menemui seseorang yang kita anggap penting, kita melakukan persiapan yang matang. Mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut tak luput dari perhatian. Lalu, apakah ketika menghadap Allah kita melakukan lebih dari itu atau paling tidak sama seperti itu atau malah sebaliknya…

Menunaikan Zakat

Zakat berfungsi menyucikan harta. Ia ditunaikan zakatnya dikarenakan ada hak fakir miskin didalamnya. Untuk mencapai keislaman yang sempurna tentu tidak hanya sekedar membayar zakat, infak, shadaqah dsb. Namun harus kita perhatikan pula darimana kita mendapatkan harta itu. Adakah kita mendapatkannya dengan cara curang, atau ada didalamnya hal-hal yang subhat. Alangkah lebih baiknya harta yang kita shadaqahkan adalah harta yang benar-benar diperoleh dengan proses yang halal dan diberikan kepada yang benar-benar membutuhkan. Tentu akan sangat bahagia ketika kita bisa membuat saudara kita tersenyum dan merasakan sama seperti apa yang kita rasakan.

Berpuasa di Bulan Ramadhan

Puasa diwajibkan bagi orang-orang yang beriman dan hikmah yang terkandung didalamnya sangat banyak baik untuk kesehatan maupun bagi perkembangan emosional. Banyak orang-orang yang lemah ekonominya disekitar kita. Mereka tidak mampu memenuhi nafkah lahirnya sehingga harus menahan lapar dan dahaga. Dengan berpuasa hadir simpati dalam diri kita untuk turut merasakan apa yang mereka rasakan. Berpuasa yang sungguh-sungguh (menjaganya dari hal-hal yang membatalkan puasa) membuat kita putih kembali, seperti bayi yang baru dilahirkan.

Menunaikan ibadah haji ke Mekkah

Berhaji diwajibkan bagi orang yang mampu secara fisik dan psikis, materi juga harus cukup. Untuk mencapai keislaman yang sempurna bukan hanya sebatas melaksanakan haji.

Makkah dan Madinah adalah kota suci tempat hamba diseluruh dunia berkumpul melaksanaka rukun islam terakhir. Ia juga kiblatnya umat Islam di seluruh dunia. Ketika seseorang melaksanakan ibadah haji dan kembali ke tanah airnya. Apakah ada perubahan sebelum dan setelah selesai menunaikan ibadah haji.

Orang yang benar-benar melaksanakan ibadah haji, ia akan mendapatkan haji mabrur. Ibadahnya diterima Allah dan ia menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ia menjadi lebih taat kepada Allah dan hidupnya berorientasi akhirat.

Bagi orang-orang yang melaksanakan haji dengan niat sekedar melepas kewajiban, menggunakan harta yang tidak jelas. Tidak dengan niat ikhlas untuk beribadah kepada Allah, tapi ada setitik niat untuk pamer atau plesiran. Maka sekembalinya ia tidak akan mengalami perubahan apa-apa. Hidupnya sama seperti sebelumnya bahkan kadang lebih parah. Banyak orang bergelar haji tapi berkelakuan seperti setan. Sehingga seorang ulama menganalogikan, saat thawaf berlangsung, 50% adalah orang beriman sedangkan yang 50% adalah hewan. Naudzubillah…

Itulah sedikit pesan yang menyirami qalbu ini saat mendengarkan khutbah di Mesjid Tgk. Cik Dirundeng Meulaboh. Marilah mengkaji diri kembali sudah sejauh mana keislaman kita. Wallahu a’lam bisshawab…

Satu Tanggapan

  1. yuuuukK!!!!!
    dhe suka ngaji ^_^

    ne dhe juga –> http://matahari-siank.blogspot.com

    kapan nih ngaji bareng, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: