Bangku Kosong

bangku kosong

bangku kosong

Dulu waktu aku masih duduk di bangku sekolah. Banyak murid yang tidak mau duduk di bangku paling depan. Tapi saat itu aku tidak ingin tahu kenapa bisa demikian. Karena tidak ada yang mau duduk di bangku paling depan. Guru mensiasati dengan mendudukkan siswanya sesuai dengan abjad namanya. Maka, murid yang duduk di depan akhirnya yang namanya biasa berawalan A dan seterusnya. Belakangan terjadi pergantian. Siapa yang berpotensi mengantuk, suka bikin onar, tukang gosip, tukang contek didudukkan di depan. Praktis ‘keaktifannya’ pun jadi berkurang karena guru lebih mudah mengawasi.

Beranjak dewasa, hal seperti ini kutemukan di dunia kampus, di acara seminar dan lain-lain. Bangku belakang selalu terisi lebih dulu. Sedangkan bangku depan dibiarkan kosong.

Pernah aku mengikuti sebuah seminar. Setiap peserta yang hadir berebut duduk di belakang. MC berkali-kali menghimbau peserta agar mengisi tempat duduk yang ada di depan terlebih dahulu. Tapi hanya sedikit peserta yang mengindahkan. Akhirnya MC menyerah dan berkata, “Terimakasih buat peserta yang sudah hadir. Walau anda tidak mau duduk di depan, tapi itu tidak jadi masalah. Kehadiran anda saja sudah membuat kami senang.” Lho aneh…

Aku ternyata juga terkena syndrome menolak duduk di depan. Aku berani duduk di depan kalau kebetulan ada teman yang mengajak duduk di depan atau kalau dijemput paksa panitia untuk mengisi bangku depan. Barangkali ini ada hubungannya dengan kurangnya rasa percaya diri dan niat yang setengah hati mengikuti acara tersebut.

Kebiasaan seperti ini ternyata aku temukan juga di dunia spiritual. Saat pelaksanaan solat Jumat. Jamaah selalu mengisi saf-saf paling belakang, dan umumnya mereka adalah pemuda-pemuda yang gagah. Sedang saf paling depan biasanya dihuni imam, muazzin, bilal, khatib dan penjaga mesjid yang usianya sudah sepuh. Makanya sering sekali bilal mengumumkan agar jamaah mengisi saf-saf di depan terlebih dahulu sebelum khatib berdiri di atas mimbar.

Kenapa ya banyak orang suka duduk di belakang. Jawab mereka:

>> supaya gampang keluar kalau acara tidak menarik

>> Kalo ngantuk kan nggak malu dan gak diperhatiin orang.

>> Takut disuruh guru ngerjain tugas di depan kelas, karena lebih gampang terlihat (kata siswa)

>> Bisa ngegosip

>> Kalo bobok gak ketahuan

>> Gampang nyontek

>> Gak suka sama orang yang ada di depan

>> Gak bebas…

>> Gak PD

Iklan

5 Tanggapan

  1. kayaknya ini cuma ada di indonesia..

    Hebat dunk Indonesia…

  2. judulnya kayak pilm horor aja..

    kwakakakaka^^

    gak sengaja dink 🙂

  3. Kalau Abu selalu duduk didepan kalau kuliah, tapi kalau ujian milih dibelakang…

    Ideologinya begini “Berlatih didepan, berperang dibelakang” Hahahahaha….

    ideologi yang aneh… 😉

  4. tak kira tadi sinopsi film horor indonesia bang!

    eh ternyata eh ternyata tentang bangku kosong anak sekolah 😀

    sorry deh, gak maksud nipu lho…

  5. Saya juga seperti abu, kalau kuliah selalu di depan, cuma, bedanya dengan Abu, saat ujian saya juga duduk didepan, maklum saya sering terlambat masuk, san kursi kosong dibelakang sudah duluan penuh.

    BTW, saya ngak bohongkan. Kenal dulu baru baca… Hehehe

    iya, terimakasih bung Ozank

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: