Kenapa Membuang Air…

Pernah kekurangan air? (jangan sampe dech). Kalo kelebihan air? Sering banget, malah dibuang-buang. Lihat aja tuh di toilet disediakan tempat buang air (walah… itu sih pipis namanya).

Sebenarnya, aku pengen membagi cerita soal masyarakat yang gak perduli lagi dengan lingkungan sekitarnya. Apalagi ini menyangkut dengan hajat hidup orang banyak. Kebutuhan yang paling urgen bagi setiap manusia, bahkan hewan dan tumbuhan. Ya… Air yang saat itu kulihat meluncur dari batang pipa. Deras… jatuh ke tanah lalu terbuang begitu saja. Dan itu terjadi di sekitar ku.

***

Senin tadi (16/2/09), pergi dengan teman-teman kantor, niatnya sih mau ngopi, tapi singgah dulu ke Desa Peunaga Pasi (salah satu desa di Kec. Meureubo, Aceh Barat), mau melihat pembangunan Children Center (CC). Kebetulan waktu ashar tiba. Akhirnya aku menuju mushola yang letaknya persis di depan CC. Langsung aja mengarah ke jalan belakang dan kutemukan pemandangan seperti ini.

air yang terbuang di samping Mushalla Peunaga Pasi

air yang terbuang di samping Mushalla Peunaga Pasi

Aku jadi teringat peristiwa minggu lalu. Dibelakang CC yang sedang dibangun kutemukan juga pemandangan seperti ini. Kok sepertinya gak ada orang yang memperhatikan ini sih..! Seenaknya membiarkan air terbuang percuma. Padahal airnya jernih banget. Koq herannya jaman sekarang yang lagi musim kemarau dan sulitnya air bersih masih ada masyarakat yang tidak perduli sama alamnya. (hiks…hiks… jadi sedih sambil membungkus moncong pipa dengan plastik kerupuk yang kutemukan di dekat-dekat situ, tentunya setelah mengambil air wudlu sebelumnya).

Masyarakat -khususnya yang tinggal di Peunaga Pasi- harusnya sadar dan bersyukur akan limpahan air yang terkandung di daerahnya. Cara mensyukurinya ya dimanfaatkan seefisien mungkin, jika air sudah tidak dipakai lagi, sebaiknya ditutup untuk mencegah air tidak terbuang percuma.

Jika mau sedikit berkaca, banyak daerah yang mengalami kekeringan, kekurangan air bersih bahkan untuk mendapatkan air minum saja sulit. Contoh lebih dekat adalah desa Suak Nie – kirakira 10 Km dari Peunaga Pasi – dimana air yang mereka konsumsi berwarna coklat kehitaman, sehingga untuk minum terkadang mereka harus membeli.

Krisis air barangkali belum melanda daerah kita, namun seperti yang dimuat Antara.co.id, sedikitnya 3,5 miliar penduduk bumi diperkirakan mengalami kekurangan air pada 2025 dan 2,5 miliar lainnya hidup tanpa sanitasi yang layak. Artinya anak-anak kita nanti yang akan merasakan akibat dari kecerobohan kita merawat lingkungan. Wew…

***(kembali lagi ya..)

Selepas solat ashar, aku berkumpul kembali dengan teman-teman yang sudah berada di CC. Berceloteh ria sambil sesekali menjepret momen-momen kebersamaan dengan mereka. Aku pun bercerita tentang air yang terbuang tadi dengan teman-teman. Dan semuanya satu suara denganku. Mengeluhkan tipisnya kesadaran masyarakat akan potensi sumber daya alamnya.

Aku jadi teringat kalau dibelakang CC ada pancuran air, layaknya tempat mencuci pakaian bagi masyarakat di situ. Aku tergelitik ingin melihatnya. Karena minggu lalu, pancuran itu dibiarkan memuntahkan air dan tak ada partisipasi masyarakat untuk membuat penutupnya. Aku yang berputar kesana kemari mencari plastik lalu membungkus moncong pipa itu agar air tak keluar lagi.

air dibiarkan terbuang sia-sia

air dibiarkan terbuang sia-sia

Dan ternyata… hasilnya sama. Moncong pipa sudah tak ada penutupnya lagi. Air (pun) mengalir sampai jaaaaaaaaauuuuuuhhhhh…

Iklan

6 Tanggapan

  1. namanya suur boorrrr wak,, kalo pake tutp aer ledeng namanya….. hahahahhahahaha…

    Ah, bisa aja lu

  2. Memang tidak mudah membuat orang peduli dengan hal-hal yang seharusnya tidak terjadi.Seperti air yang terbuang dibiarkan begitu saja. Tidak jauh contohnya kita sendiri. Melihat kejadian semalam aku jadi ingat ketika di mes. Di mes kami punya kamar mandi dua, satu ada bak nya yang satu hanya ember kecil. Aku mandi di kamar mandi yang ada baknya sekaligus mengisi bak sampai penuh, akan tetapi karena di kamar mandi yang hanya ada ember kecil lebih cepat penuhnya. aku matikan kerannya sanyonya bunyi-bunyi bak mak-mak yang merepet. Katanya kalau itu dibiarkan sanyonya jadi rusak. Akhirnya kubiarkan saja, padahal air sudah bertumpah ruah sebanyaknya dan itu sudah berjalan mulai bulan nopember lalu. Bayangkan saja berapa banyak sudah air yang kita buang, hanya karena sanyo. Kita tak sadar kita lebih banyak rugi dengan membuang air tersebut. Kita tahu tapi kita tak sadar.

    Wah… bagus juga tuh kata-katanya bisa jadi jargon
    Kita tahu tapi kita tak sadar

  3. maunya beritanya ini di lengkapi jawaban masyarakatnya.
    kok tidak mengomentari air itu di biatkan terbuang.

    Terima kasih bang Armen masukannya

  4. Itulah manusia….disaat ada mereka lupa

    kapan mereka baru merasakan penyesalannya..?

    disaat mereka membutuhkan

    Betul Bang AgamKelana, terima kasih

  5. kalo lebih air bisa banjir, hemat2nya manusia mempergunakan air.

    pesan sponsor:
    kunjungi muslim rohingya di http://saverohingya.com 🙂

    Mungkin karena gak pernah merasakan banjir jadi buat simulasi dulu kali

  6. kalo mereka pernah tinggal di arab, baru bisa hemat
    aku malah sering diketawain kawan2 dulu, gara2 kalo wudu, kerannya kubuka keciiiil kali
    mungkin karna di kampungku susah dapat air bersih, terbiasa hemat air

    Kebiasaan bagus itu, terus dipertahankan ya mas…hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: