Akibat Ulah Jantan

0211042Semua orang membenciku, menganggap rendah, mengumpat, bahkan mengusirku dari tanah lahirku, yang lebih sadisnya lagi keluargaku mencampakkanku, tidak sudi menerimaku kembali dan memutuskan ikatan hubungan keluarga. Sebesar inikah beban yang harus ku tanggung. Apakah aku bersalah pada mereka. Apa benar aku bersalah…

Aku heran, walau hati ini luka, perih dan sakit sekali, tapi setetes air mata pun tak merembes ke kelopak mataku. Apa ada masalah dengan urat dan otot mataku. Aku ingin sekali menangis mengerang-ngerang, menjerit sekencang-kencangnya, tapi aku tak tahu bagaimana. Aku asyik berdiam di rumah yang rela menampungku, entah sampai kapan.

Aku berjalan lambat menuju kantor yang mengurusku, usia bakal bayi dalam rahimku ini pasti semakin tumbuh, karena kurasakan perut ini semakin membesar dan berat. Menurut Yas, usia bayi ini memasuki bulan ke-7. minggu kemarin aku dibawa mereka ke rumah sakit, kata mereka kandunganku akan diperiksa. Petugas berjas putih menstetoskop perutku, ia tersenyum. Aku tahu senyumnya kusut.

Aku benar-benar bosan. Orang kantor sibuk dengan tugasnya masing-masing, kupandangi raut mereka satu-satu saat berlalu dihadapanku. Ada yang tersenyum, ada yang sekedar melempar pandang. Bosan. Ingin sekali ku putar radio yang teronggok di ruang tamu, tapi mereka pasti melarang, katanya belum waktu istirahat. Membosankan. Ku lihat televisi, ya… aku tahu, hanya boleh menontonnya setelah jam lima sore, waktu mereka pulang.

Jadi aku hanya meratapi nasib, menghitung kenangan-kenangan yang perlahan memudar, menembus dinding, jendela, angkasa, pepohonan dengan mataku yang menyusun puzzle masa laluku. Tidak ada yang indah, sungguh… tidak ada yang indah.

Ruang rapat tiba-tiba ditumpuki orang kantor. Ini pasti rapat dadakan. Tak biasanya mereka rapat pukul tiga siang. Yang aku tahu mereka selalu berkumpul seperti ini pada sabtu pagi. Tapi ini hari selasa.

”Bagaimana ini, penduduk meminta kita menjauhkan Lela dari gampong ini, mereka takut ia membawa petaka.”

”Benar, permintaan mereka, jangan sampai tangisan bayinya terdengar di gampong ini. Itu artinya kita harus segera mencarikan tempat alternatif untuknya menjelang ia melahirkan bayinya.” Aku mendengar Asnan dan Fauzi bicara, kurapatkan tubuhku ke lemari yang menyekat ruang rapat ini. Semoga mereka tidak tahu aku menguping.

”Tunggu dulu, ini bagaimana kok tiba-tiba penduduk bisa mengatakan kepada kalian seperti itu?” Itu suara Bukhori. Dialah pemimpin kantor ini.

”Kami tadi dipanggil ketua pemuda, mereka menanyakan siapa perempuan hamil yang ada di kantor kita. Lalu kami ceritakan kasus itu dan kami ceritakan pula kantor kita sebagai rumah aman korban. Tapi mereka punya pikiran berbeda.” Ku dengar suara detak air mengejap dikerongkongan Fauzi dan suara cangkir plastik terantuk meja. ”Kata ketua pemuda itu. Ibu-ibu di sini meminta kami untuk menyuruh kalian membawa perempuan hamil itu keluar dari gampong ini. Mereka tidak mau gampong ini terkena bencana karena membiarkan pelaku maksiyat ada di sini.”

”Kalian tidak menceritakan bahwa dia korban perkosaan.” Bukhori menyela.

”Asnan sudah jelaskan, tapi mereka bilang. Apakah benar ia korban perkosaan, jangan-jangan dia lakukan atas dasar suka sama suka. Apalagi ia tampak sudah dewasa.”

Astaghfirullah… aku ingin sekali berkomentar, tapi aku sama sekali tidak bisa. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Benar-benar rumit dan sakit.

”Lalu kami ceritakan juga soal Lela yang tidak tamat SD, tidak bisa membaca dan menulis, tidak bisa mengaji, tidak bisa solat. Namun mereka tetap minta kita untuk mengembalikan ia ke gampongnya dan keluarganya.” Fauzi menambahkan.

”Inilah dilema kita. Kita katakan ia tidak diterima di gampongnya bahkan oleh orangtua dan keluarganya menolaknya mentah-mentah, mereka hanya terima jenazahnya. Lalu kata mereka begini. Itulah pak, sedangkan penduduk gampong dan keluarganya tidak menerimanya. Masak kami harus menerima dia di gampong kami. Bukan kita tidak mempertimbangkan kemanusiaannya, tapi inilah hukum adat yang harus dipatuhi semua orang yang datang ke gampong ini tanpa terkecuali. Mungkin segelintir kita bisa menerima, tapi mayoritas penduduk gampong tidak merestuinya. Jadi bapak pikirkanlah hal itu. Kami masih memberikan batas tolerir beberapa minggu ini dan jangan sampai perempuan itu melahirkan di gampong ini. Itu saja permohonan warga. Begitu kira-kira kata mereka.”

Setelah Asnan bicara. Ruangan terasa sepi. Mungkin mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kupikir tak perlu menguping terus pembicaraan mereka. Aku beringsut kembali ke ruang tamu. Membolak-balik koran yang tak kukenal satu pun hurufnya. Aku benar-benar tak berminat belajar. Kupikir tak ada gunanya di usiaku yang tak kutahu berapa.

Aku pun hampir tak peduli siapa yang menitip jabang bayi ke dalam rahimku. Aku tak peduli berapa kali mereka bertanya siapa pelakunya. Aku tak peduli mereka bolak-balik memindahkan aku dari satu tempat ke tempat lain. Aku tak peduli berapa kali mereka menyuruhku solat, aku sudah malas hidup. Tapi aku tidak tahu apa yang terbaik aku lakukan. Matipun aku tak tahu caranya.

Setelah kejadian terkutuk itu. Ayahku pamit untuk berangkat melaut. Tapi tak biasanya ia pergi selama itu. Biasanya dua tiga hari ia sudah kembali ke rumah, tapi ini bulan ke-7 seperti kata Yasmin, perawat yang bertugas di kantor itu. Tak pernah kulihat raut wajah dan suara ayahku.

Setelah itu rumahku sering dikunjungi orang. Ada wanita berseragam, yang sepintas kudengar mereka adalah polisi, ada perempuan yang terus-menerus menemaniku, padahal aku tak pernah sekalipun bertemu dengannya sebelumnya. Ada orang yang berjalan bolak balik menjepret sana-sini. Ada yang berkumpul membicarakan sesuatu yang tak aku mengerti. Beberapa hari berikutnya pandangan keluargaku menjadi musuh, mata mereka menolak diriku, ucapan mereka hanya sumpah serapah, mereka seolah tak mengenaliku. Akhirnya aku diajak pergi oleh perempuan yang selalu menemaniku hingga berlabuh di kantor ini.

”Lela… Lela. Solat dulu ya. Sudah waktunya. Gak boleh melamun aja.” Dia Hamdan. Orang kantor yang tak pernah bosan menyuruh aku solat. Aku memiringkan bibirku kepadanya, bukan membantah. Tapi aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kubaca dan kupinta.

Bumi Teuku Umar, 20 Nopember 2008

Satu Tanggapan

  1. wah ini ceritanya bagus sekali. sampai larut kata per katanya.
    salut. kejadian yang sama bisa berbeda penilaian tergantung cara pengungkapannya.
    tapi di posting sambungannya kok si lela menjadi genit ya, padahal di latar belakangnya terkesan skeptis…
    salam

    iya bang, cerita yang ini saya cuma ingin mengeksplorasi kesendirian dan kesedihannya saja… terima kasih masukannya ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: