Tamu yang Diam

Maut memang tidak bisa diduga kapan datangnya. Ia datang tanpa diundang, tapi bukan jelangkung. Ia datang membawa peringatan buat orang yang masih bersisa hidupnya di sepotong alam ciptaan Tuhan ini.

Adalah Pamanku (adik ayah) yang masih berusia muda telah lebih dahulu memasuki alam barzakh. Ia meninggalkan seorang istri dan 3 anak yang masih belia. Tangis dan ratapan pilu memenuhi ruangan RS Permata Bunda sebelum azan subuh berkumandang di hari Sabtu, 13 Desember lalu.

Kesedihan menyeruak di rongga dadaku. Begitu cepatnya kematian datang. Begitu mudahnya Allah memisahkan kita dengan orang yang kita cintai. Betapa lemahnya manusia saat menghadapi ujian kematian. Sungguh aku tak dapat menahan kesedihan ini. Ku lihat linangan dan ratapan istri pamanku yang tiada henti. Ia terus saja bertanya kenapa suaminya begitu mudah meninggalkannya. Mengapa suaminya tidak mau bersama dengannya lebih lama lagi. Melihat keberhasilan anak-anaknya, meneruskan rencana-rencana yang baru saja mereka rajut kemarin. Sang suami hanya diam, ia begitu nyaman ‘tidur’ di tengah-tengah duka anak dan istrinya.

Maut… Adalah peringatan bagi orang yang hidup. Ia adalah sebentuk pertanyaan yang hadir kepada ahli musibah, apakah mereka lebih baik dari si mayit, atau lebih buruk dari si mayit. Apakah mereka sudah mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian yang tak terduga kapan datangnya…

Maut, ia tamu yang diam. Namun membawa pesan yang tak boleh diabaikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: