Ta’aruf Membawa Sengsara

Ta’aruf memang menyenangkan. Selain bisa menambah teman, rasa percaya diri juga bertambah… Apalagi ta’aruf dengan beberapa orang (cewek-cewek lagi).

Pulang dari kantor hampir maghrib. Dengan mengendarai Yamaha YT bersama 2 orang teman, sepeda motor ini menjadi terasa sempit. Bahkan bokong ini kandas dengan lampu belakang.


Setelah sampai di depan mess.
Eko, yang memegang kendali nancap terus. “Kita lewat jalan sana ya”. Bang Soleh dan aku mengangguk di buritan. Tahulah kami maksud si Eko. Kami akan melewati rumah kos-kosan cewek. Tidak ada perencanaan sebelumnya, apalagi kondisi saat itu lagi gerimis. Memang jalan menuju kos-kosan cewek itu bila diteruskan akan berputar juga menuju mess kami. Jadi kalau ditarik garis lurus antara mess dengan kos-kosan cewek itu, jaraknya cuma 10 meter.

Begitu lewat di depan rumah kos-kosan tersebut, nampaklah oleh kami 7 anak wedok yang berjajar di beranda. Mereka duduk di lantai semen. Ada yang sibuk dengan hp-nya, ada juga yang memandangi kami saat si Eko memencet klakson sepmor ini. Persis kali suara jangkrik. Namun kami terus melaju. Eko bukannya berhenti di mess, malah nantangin bang Soleh untuk kenalan sama cewek-cewek tadi. Bang Soleh setuju. Mantan playboy ini begitu semangat. “Ingat anak istri bang.” bisikku. ”Bah, kan cuma kenalan. Tak enak si Jaya ini.” protesnya terkekeh-kekeh.

Sepmor berhenti tepat di depan rumah kos diiringi hujan rintik-rintik yang semakin tebal. Bang Soleh langsung menyerbu ke beranda. Menyalami mereka satu persatu. Eko pun melakukan hal yang sama. Aku yang sebenarnya punya firasat tak enak terpaksa ikut. Tapi aku tak menyalami mereka. Biar aja dibilang sombong. Keduanya memperkenalkan diri dengan identitas palsu. Bang Soleh mengenalkan dirinya pakai namaku. Eko mengganti namanya dengan Kamaluddin. ”Abang yang itu siapa namanya?” salah seorang cewek berkaos putih menunjuk ke arahku. Aku tersenyum. Kubilang namaku Soleh Kamal, hasil pencatutan nama Bang Soleh dan Eko. Tapi gadis-gadis itu tahu aku ngeles.

Perkenalan berlangsung sekitar dua menit, canda tawa berderai. Eko dan Bang Soleh orangnya asyik. Terutama Eko yang gayanya nyentrik, rambut gondrong pake topi yang mirip dengan Nagabonar. Lihat wajahnya aja bisa mual. (sorry ko)

***

”Woi, adzan tu…” Aku mengingatkan Eko dan Bang Soleh.

”Udah ya kami pulang dulu.” Sapa Eko dengan memberi hormat pada para gadis seperti memberi hormat saat upacara bendera. ”Aku lari duluan menuju mess sambil memayungi kepalaku dengan tangan. Sedangkan bang Soleh dan Eko berboncengan.

Di kamar, aku mengeluh. ”Nyesal kali awak kenalan, tak ada pun yang mantap.” mantap disini maksudnya yang sedap dipandang mata. ”Ia, gitu banyaknya orang itu gak ada yang menarik.” Ternyata bang Soleh sepakat soal menilai. ”ngomongnya pun gak ada yang lembut.” Tambahku lagi. Tiba-tiba terjadi hal yang tak kami duga sebelumnya.

”Bang suara apa itu?” Kami mengintip dari jendela kaca kamar. Tapi di luar sudah gelap. Beranda rumah kos tadi tampak kosong. Aku khawatir.

”Pasti mereka dimarahi bang sama Ibu kosnya, atau sama tetangganya. Kita pulak kenalan maghrib-maghrib.”

”Iya, dimarahi orang itu, kasian kali…” Kami berdua berjalan mondar-mandir di kamar.

Tak berapa lama masuklah Eko ke kamar kami dengan tergesa-gesa.

”Hajab kali bah, dimaki cewek-cewek itu sama Ibu-ibu situ. Hana utak kah mandum…Entah apa-apa kata ibu itu. Aku tadi masih disitu.”

”Lho, tapi tadi udah pulang.” Tanyaku

”Ia, aku mutar lagi tadi. Rupanya nampakku orang itu dimarahi gara-gara kita datang kesitu. Aku pun cepat-cepat pigi. Takut aku dimaki juga sama ibu itu.”

Kami bertiga ketawa cemas. Pasti cewek-cewek itu malu sekali dicaci maki. Astaghfirullah. Kami lupa kalau ini di Aceh. Perasaan masih di Medan. Mungkin hal semacam itu sangat tabu di Aceh, jika ada cowok yang mendatangi cewek, apalagi dekat maghrib. Atau mungkin cewek-cewek telah melanggar peraturan di rumah itu yang telah menerima masuk tamu tak dikenal. Inilah mungkin perasaan tak enak yang kurasakan sebelum kenalan tadi. Taaruf membawa laknat.

Keesokan pagi, cerah dan sumringah. Bang Soleh menjemur pakaian di lantai dua. Dari arah seberang mendadak muncul suara yang dahsyat.

”Bang… Bang…!” Dua orang gadis dari rumah kos-kosan memanggil bang Soleh.

”Apa dek.” jawab bang Soleh dengan gaya bataknya.

”Gara-gara abang datang kemari, kami dimarahi. Kami nggak boleh lagi tinggal di sini. Harus cepat-cepat pindah.”

Teriakan itu menghentakkan sanubari bang Soleh yang penyantun. Ia pun menjawab.

”Ya udah, tinggal di sini aja.” Ia tersenyum pada mereka. Setelah itu dua perempuan itu masuk lagi ke rumah. Bang Soleh pun turun dan menemui kami. Di kamar kami terkekeh-kekeh lagi mengingati nasib gadis-gadis di seberang sana.

Meulaboh, Oktober 2008

Satu Tanggapan

  1. Weleh… Koq bisa ampe segitunya ya… Mungkin pepatah lama ada benarnya juga. “dimana bumi di pijak, di situ cewek di cari”. Eh salah… Edit…
    “Dimana bumi di pijak, di situ langit di junjung”. (dengan demikian kesalahn telah diperbaiki.red)..

    Cerita yang menarik. Salam kenal sobat. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: