Menangis dalam Shalat

Waktu zuhur tiba, aku bergegas menuju mesjid yang letaknya persis di samping gedung tempat dimana aku menjadi fasilitator pelatihan KHA di Desa Langung, Kec. Meureubo, Meulaboh. Aku mengambil saf pertama, di samping kiriku ada seorang laki-laki yang sudah uzur, ia menyita perhatianku. Entah kenapa, begitu imam mengangkat takbiratul ihram, Pak Tua menangis sesunggukan, bahkan hingga imam membaca alfatihah. Shalatku kini keruh dihinggapi tanda tanya atas perilaku Pak Tua ini.

 

Menangis dalam shalat seperti Pak Tua itu pernah kulakukan beberapa kali, namun itu hanya terjadi saat aku shalat sendirian. Sayangnya tangisan itu bukan karena rasa cintaKu pada Allah, atau karena shalat yang khusu’, melainkan karena terbelit masalah hidup yang menguras emosi dan shalatlah menjadi tempat pengaduanku (ini memang tak ada dasar hukumnya).

 

Jika merujuk pada hukum – sesuai dengan referensi yang pernah kubaca – bahwa menangis dalam shalat karena kekhusu’an atau karena takut pada Allah memang ada dasar hukumnya. Namun jika menangis yang dibuat-buat/sengaja apalagi saat shalat berjamaah tidak ada dasar hukumnya, malah bisa menimbulkan terganggunya kekhusu’an jamaah yang lain.

 

Apakah Pak Tua ini menangis karena menghadapi masalah seperti yang kuhadapi, atau mungkin ia baru saja mendapat musibah, atau ada harapannya yang belum diijabah Allah atau karena keshalehannya menyadari kehambaan dirinya dihadapan-Nya. Wallahu a’lam

 

Meulaboh, 23 Agustus 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: