Pustaka Keliling, Upaya Menumbuhkan Minat Baca

Kata orang bijak, buku adalah jendela dunia. Darinya kita bisa mendapatkan ilmu pengetahuan, menambah wawasan dan informasi serta melahirkan beribu-ribu inspirasi. Benarlah jika buku disebut sebagai sumber ilmu pengetahuan, susunan kalimat dari rangkaian kata-kata yang terpatri di lembaran-lembaran kertas itu telah banyak memberi kontribusi terhadap pembangunan suatu masyarakat dan bangsa, namun apapun namanya, buku tidak memiliki arti jika tidak dibaca.

Warna merah putih itu saban hari keluar masuk garasi Kantor Yayasan KKSP di Meulaboh, badannya dilumuri gambar warna-warni, di atapnya tersusun kata ”warnai duniamu dengan bermain dan belajar”. Di pintunya terpampang logo Yayasan KKSP dan TDH… Ya, itu warna dua minibus yang setia mengangkut berjilid-jilid buku untuk kegiatan pustaka keliling di bumi Teuku Umar.

Sudah dua bulan belakangan ini bus pustaka berkeliling ke desa-desa di Kecamatan Johan Pahlawan, Meureubo dan Darul Makmur, Kabupaten Aceh Barat. Menghibur anak-anak dengan bacaan yang diperuntukkan bagi kalangan anak-anak dan remaja.

Lebih dari 1.200 buku dimiliki KKSP Meulaboh untuk kegiatan pustaka keliling. Buku-buku ini terdiri dari beberapa jenis yang meliputi cerita kenabian dan novelet islami, ilmu pengetahuan umum, pengembangan diri dan kreativitas. Umumnya, buku-buku ini dihiasi dengan cerita dan gambar. Ada buku yang didominasi tulisan namun ada pula buku dengan gambar lebih dominan. Tentu saja ini sengaja dipilih karena sasaran penerima manfaatnya adalah anak usia sekolah, baik yang masih belajar mengeja hingga yang sudah SMA untuk menumbuhkan minat baca mereka. Namun adakalanya orang tua anak juga menikmati buku-buku itu.

Tentu saja tidak semua anak gemar membaca, maka untuk menumbuhkan minat baca mereka ada cara yang mesti ditempuh, yakni mengenalkan buku sejak dini. Untuk anak balita dan tingkat sekolah dasar, baiknya memberi mereka bahan bacaan yang banyak gambar dan tulisan yang sedikit, akan lebih menarik jika gambar itu berwarna, bukan hitam putih.

Di pustaka keliling KKSP Meulaboh, hampir 95 persen buku-bukunya mengandung gambar. Anak-anak di desa dampingan memang lebih meminati buku yang bergambar dan dibebaskan memilih sendiri buku yang ingin mereka baca.

Pendamping anak-anak yang mengkoordinir kegiatan pustaka keliling di Desa Suak Nie, Suak Raya dan Suak Sigadeng Kec. Johan Pahlawan, Afrizaldy mengatakan, ”Dari hasil kegiatan pustaka keliling selama ini, minat anak-anak terhadap buku dibagi ke dalam tiga kelompok. Pertama, kelompok anak-anak yang belum bisa membaca, pada umumnya anak yang belum membaca akan memilih buku yang lebih didominasi gambar dan penuh warna, mereka akan bertanya langsung kepada pendamping jika tidak tahu gambar di buku tersebut,” katanya awal Agustus lalu.

Tipe kedua, kata Afrizaldy, kelompok anak tingkat sekolah dasar yang sudah bisa membaca, mereka lebih suka membaca buku cerita bergambar dengan font yang lebih besar dari ukuran umum. Ketiga, kelompok anak tingkat menengah pertama, mereka lebih suka membaca buku pengembangan diri dan buku-buku agama seperti sejarah nabi dan rasul. Sebab itu, pengklasifikasian buku sangat membantu memudahkan anak-anak menemukan buku yang mereka inginkan.

Bila ditinjau dari usia kronologis anak, ada perbedaan minat anak terhadap buku. Pada usia antara dua sampai dengan enam tahun anak-anak menyukai buku bacaan yang didominasi gambar-gambar yang nyata. Pada usia tujuh tahun anak menyukai buku yang didominasi gambar-gambar dengan bentuk tulisan besar-besar dan kata-kata yang sederhana dan mudah dibaca. Biasanya pada usia ini anak sudah memiliki kemampuan membaca permulaan dan mereka mulai aktif untuk membaca kata.

Pada usia 8 s/d 9 tahun, anak-anak menyukai buku bacaan dengan komposisi ganbar dan tulisan yang seimbang. Mereka biasanya sudah lancar membaca, walaupun pemahaman mereka masih terbatas pada kalimat singkat dan sederhana bentuknya. Kemudian pada usia 10 s/d 12 tahun anak lebih menyukai buku dengan komposisi tulisan lebih banyak dari pada gambar.

Pada usia ini kemampuan berpikir abstrak dalam diri anak mulai berkembang sehingga mereka dapat menemukan intisari dari buku bacaan dan mampu menceritakan isinya kepada orang lain. Untuk case ini, pendapat tersebut tentu masih sejalan dengan kondisi anak-anak dipedesaan, namun untuk kondisi anak-anak diperkotaan barangkali pendapat di atas tidak lagi relevan. Pengaruh media-media elektronik dan digital seperti tayangan televisi, komputer, handphone, internet dan sebagainya telah membuat anak perkotaan selangkah lebih maju dalam bidang teknologi dan informasi dibandingkan dengan anak-anak di desa yang bakat dan imajinasinya tumbuh secara alami.

Mengembangkan Imajinasi

Staf Pendidikan/pendamping anak di desa dampingannya masing-masing telah melakukan upaya-upaya untuk merangsang minat baca anak. Jika ada anak yang belum mampu membaca seperti anak di Desa Suak Sigading, pendamping membacakan cerita tersebut dan menanyakan pendapat si anak setelah bacaan selesai, upaya seperti ini akan melatih kepekaan anak akan peristiwa yang diceritakan di dalam buku dan mengukur sejauh mana anak telah memahami cerita tersebut.

Agar semakin menumbuhkan minat baca anak, pendamping tidak pernah sekalipun memaksa anak untuk membaca. Mereka dibebaskan memilih jika ada dua kegiatan yang bersamaan. Di Desa Suak Raya misalnya, ada anak yang memutuskan untuk membaca buku setelah mengikuti latihan menari.

Membaca juga bisa diselingi dengan kegiatan bermain, tujuannya agar membaca menjadi aktivitas yang menyenangkan, seperti rekreasi. Seringkali lokasi membaca dipilih tempat yang menyenangkan sesuai dengan ide anak-anak, seperti di Pantai Pasir Putih Suak Ribee, di Pantai Peunaga Rayeuk dan pinggiran sungai Meureubo. Jika hal ini kerap dilakukan, membaca akan menjadi sebuah kenikmatan bagi anak mengembangkan imajinasinya. Bukan tidak mungkin suatu hari anak-anak di kecamatan Meureubo, Johan Pahlawan dan Darul Makmur mampu beragumentasi, menganalisis dan berimajinasi tinggi karena selalu membaca buku.

dapat juga di baca di: http://kksp.or.id/id/index.php?pilih=lihat&id=159

Satu Tanggapan

  1. seandainya keinginan untuk membaca itu besar namun sering sekali terhalang oleh setan kemalasan bagaimana cara menanganinya?????????????????????????

    makasih ya sebelomnya………………..

    @
    emang ada ya setan kemalasan,,,
    gampang aja itu ngatasinya, kalo udah ada keinginan tinggal melaksanakan aja, kalo ada waktu luang, ambil buku aja, terus dibaca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: