Ibu yang Menampung Muntah Anaknya

Mother\'s Love

Cuti seminggu harus diambil, karena datangnya sampai nunggu 3 bulan, maka cuti kali ini tidak disia-siakan. Selain homesick, refreshing setelah lelah berbulan-bulan bergelut dengan pekerjaan adalah menjadi kewajiban. Air Batu, desa yang terletak di Kabupaten Asahan Sumatera Utara ini menjadi tujuan utama karena disanalah sanak keluargaku berada.

Perjalanan panjang dari Meulaboh menuju Medan memang sangat melelahkan, memakan waktu lebih kurang 13 jam dengan kecepatan kendaraan 100 km/jam. Sampai di Medan aku harus cari angkot (angkutan kota) menuju Lubuk Pakam. Kota dimana kakakku dan abangku yang reporter metro tv itu bertempat tinggal di sana. Kebiasaanku sebelum pulang ke kampung halaman adalah menyinggahi kakakku satu-satunya.

Dalam perjalanan, kutemukan suatu peristiwa yang mungkin bagi orang lain biasa-biasa saja. Tapi bagiku, sangat memberi pelajaran moral yang berharga. Dalam angkot, persis di depanku duduk seorang ibu dan dua anak perempuannya. Si kakak seumuran anak SMP sedang si adik kira-kira kelas 3-4 SD. Si Ibu duduk diantara dua anaknya yang tampak lemah.

Rupanya si Kakak sejak tadi menahan rasa mual diperutnya. Ia kirimkan signal ke ibunya kalau ia ingin muntah. Sayangnya si Ibu tidak membawa plastik untuk menadah muntah si kakak, “Kalau muntah, buang aja lewat jendela. Kita nggak bawa plastik. “ Saran si Ibu. Aku segera membongkar tasku, berharap menemukan plastik. Tapi aku ingat, kalau plastik yang kumasukkan waktu perjalanan di Meulaboh tertinggal di mobil. Karena sudah tidak kuat menahan lava dalam perutnya, akhirnya si kakak memuntahkan apa saja yang ada dalam perutnya. Kulihat cecerannya dari kaca belakang, seperti pesawat Cessna menjatuhkan bantuan makanan kepada para pengungsi, itu yang kulihat di tayangan televisi.

Beberapa kali si kakak huek-huek, dilapnya mulutnya dengan sapu tangan putih bergaris hitam. Wajahnya tak lagi menoleh ke depan, mungkin ia malu dilihat penumpang lainnya. Terutama aku yang agak keren ini (tuing…). Minyak angin itu tak pernah lepas dari genggamannya. Si ibu menuntun membersihkan mulut si kakak dari sisa-sisa muntah.

Tak lama berselang, giliran si adik menatap ibunya dengan wajah pasi. ”Mau muntah juga?” Tanya ibunya. Si adik mengangguk pasrah. Pipinya menggelembung, lalu mengempis lagi. Seorang Inang yang baru saja naik berujar ”Tutup matanya nak, tutup matanya… tidurkan dia biar tak muntah.” Si Ibu mengusap mata si adik. Si Ibu bilang kalau anak-anaknya persis saat ia kecil dulu. Mungkin muntah di kendaraan ini penyakit keturunan.

Tiba-tiba si adik menyembur. Si Ibu dengan reflek menampung muntah si adik dengan tapak tangannya. Mau tau apa saja yang dimuntahkan si adik. Ada butiran jagung, lalu… tak sanggup lagi aku melihatnya. Si ibu membuang muntah tadi melalui pintu angkot. Muntah lagi, ditampung lagi. Begitu sampai beberapa kali. Dari jemari tangannya mengalir cairan muntah sampai ke siku. Diambilnya sapu tangan putih bergaris hitam tadi, lalu ia usapkan ke mulut si adik dengan perlahan-lahan sebelum membersihkan tangannya. Setelah itu dipeluknya si adik dengan kasih sayang. Wajah si ibu tidak menunjukkan rasa kesal sama sekali. Diusapnya kepala si adik. Lalu ditidurkan dipangkuannya.

Sungguh sabar sekali ibu ini. Begitulah semua ibu di dunia ini. Tidak ada yang membenci anaknya. Walau si anak durhaka sekalipun. Mereka akan rela berkorban apa saja demi buah hatinya. Masih banyak lagi pengorbanan ibu-ibu lain, terutama mamakku di kampung. Mak, aku rindu mamak. I love you mom…

Lubuk Pakam, 6 Juli 2008


2 Tanggapan

  1. kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang jalan.. hiks

  2. pgn ighh..jadi ibu iank bae’ kaiia gtu..asal jgn dpAke muntah anak ajj

    semoga upaw jadi ibu yang baik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: