Bisakah Kita Hidup Tanpa Hutang

Sudah menjadi tradisi sepertinya, jika hidup itu tidak pernah terlepas dari aktivitas ‘menghutang’, dari golongan ekonomi menengah kebawah sampai golongan the havest memiliki hutang, paling tidak sudah pernah berhutang. Yang anehnya semakin banyak orang memiliki uang malah semakin banyak hutangnya. Tak ada rotan akar pun jadi, tak ada uang ya ngutang…

 

Dengan menghutang berarti ada transaksi dimana satu pihak meminjam (uang) kepada pihak lainnya dengan waktu pengembalian dan tata cara pengembalian yang disepakati kedua belah pihak. Umumnya yang dihutangkan adalah uang, bukan budi ataupun nyawa. Dua yang disebutkan terakhir tidak akan saya bahas di sini.

 

Menghutang bukan berarti karena tidak punya uang. Inilah biasanya yang membedakan menghutang antara orang miskin dengan orang kaya. Jika orang miskin menghutang karena kebutuhan perut, orang kaya menghutang karena kebutuhan sekunder dan tersier. Orang miskin menghutang seribu dua ribu, orang kaya menghutang bisa sampai satu miliar bahkan lebih. Orang miskin dituntut gara-gara hutang bisa bunuh diri, orang kaya di tagih hutang malah jalan-jalan ke luar negeri. Ingatkan kasusnya BLBI.

 

Saya jadi teringat tetangga kakak saya ketika sebulan tinggal dirumahnya sambil menunggu panggilan kerja dari LSM local yang ada di Medan. Setiap hari, dari pagi hingga sore banyak sekali tamunya. Herannya, tamunya itu datangnya tidak sampai satu menit lalu pergi lagi, beberapa jam kemudian, datang lagi tamu yang lain lalu pergi, begitulah seterusnya, kira-kira ada  5 orang setiap harinya sampai saya hapal wajah mereka.

 

Karena penasaran, saya Tanya kakak saya. Tahulah saya kalau mereka adalah tukang kredit. Yang datang pagi-pagi jam 8 adalah seorang ibu berkaca mata reben dengan Honda bebeknya, dia menagih hutang atas kredit becak mesin. 2 jam kemudian laki-laki dengan jaket hitam menagih kreditan rice cooker. Abis zuhur, laki-laki lagi, menagih kreditan sepeda motor. Sorenya, perempuan yang selalu bercelana ponggol menagih hutang pakaian. Menjelang maghrib seorang perempuan juga menagih kreditan sepeda.

 

Ternyata tetangga kakak saya ini membayar hutangnya dengan mencicil setiap harinya, ada yang cicilannya dibayar 1000, 3000, 5000, 15.000, dan 20.000 per hari. Berarti setiap harinya tetangga ini harus mengeluarkan uang sebesar Rp44.000. sekitar Rp 1.320.000 setiap bulannya. Itupun kalau tetangga ini nggak ngeles. Karena tidak jarang saya perhatikan, si tamu pulang dengan wajah seperti jeruk purut.

 Bagaimana tidak, si suami bekerja sebagai penarik becak mesin, istrinya mencucikan baju dari rumah ke rumah di kota Lubuk Pakam sana. Anaknya bahkan ada yang sudah putus sekolah. Saya tidak tahu berapa penghasilan mereka setiap harinya. Tapi dari situasi di rumah itu saya tahu kalau mereka merasa kesulitan melunasi hutang-hutangnya. Soalnya mereka pernah datangi kakak saya untuk meminjam uang. Istilahnya gali lobang tutup lobang. Ahh… saya jadi teringat kalau saya juga punya hutang, kreditan sepeda motor saya belum lunas, setahun tujuh bulan lagi…

Lubuk Pakam, 19 Maret 2008  09:37 am

2 Tanggapan

  1. Jaya, kekmana utangmu kemaren itu? ko bayarlah dulu wak :>

  2. iya, besok ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: