Hari ini genap lima tahun bencana tsunami diperingati di Aceh. Sayang ku tak bisa menyaksikan langsung kegiatan peringatan itu di sana. Tahun lalu masih sempat menyaksikan masyarakat Meulaboh memperingati 26 Desember dengan berzikir dan berziarah bersama di kuburan massal korban tsunami tersebut.
Tsunami tentu membawa kenangan sendiri bagi setiap orang yang pernah mengalami dan merasakannya. Begitu juga dengan aku. Namun kenanganku tentang tsunami bukan karena aku korban dari gelombang raksasa yang memakan korban sekitar 200-an ribu penduduk Aceh, melainkan saat aku menjadi relawan setahun pasca tsunami.
Saat itu, keikutsertaanku di organisasi kemahasiswaan HMI MPO di Medan memberi warna baru bagi hidupku. Aku diberi tugas oleh organisasi untuk terlibat membantu teman-teman yang sudah lebih dahulu ada di Banda Aceh membuka posko pelatihan komputer bagi anak-anak korban tsunami secara gratis.
Posko yang juga dijadikan tempat pelatihan tersebut mengambil tempat di gedung juang, persis berdekatan dengan makamnya Pahlawan Aceh, Iskandar Muda. Disebelahnya ada kantor ICMI Banda Aceh yang merupakan partner dalam pelatihan komputer tersebut.
Menjadi instruktur dalam pelatihan komputer merupakan pengalaman pertamaku. Aku menghadapi anak-anak tingkat SMA, mahasiswa hingga Bapak/Ibu Pegawai Negeri maupun swasta yang ingin belajar mengoperasikan komputer. Mengajari mereka secara teori dan praktek adalah pengalaman luar biasa.
Lebih kurang tiga bulan aktivitas itu kulakukan bersama teman-teman dari provinsi yang berbeda. Ada Mbak Esti R. Satiti yang saat itu masih kuliah di Jogjakarta kalau tidak salah. Lalu ada Jarot dari Kalimantan. Sayang, aku tidak pernah berhubungan dengan mereka lagi, sungguh aku merindukan mereka untuk bertemu lagi.
Suka duka yang kulalui bersama mereka dan bersama peserta masih terekam indah sampai sekarang. Terkenang bagaimana saat itu kami merayakan perpisahan di Mata Ie, kami merekam dengan webcam yang menclok di laptop. Membawa laptop dengan terbuka seolah-olah sebuah handycam dan kami rekam setiap moment-moment tersebut, sungguh lucu dan unik.
Menjelang beberapa hari untuk kembali ke Medan. Aku mendapatkan beberapa kenangan dari peserta. Peserta ibu-ibu memberiku dua baju kemeja pendek dan peserta yang masih kuliah dan sekolah memberi pernak pernik khas Aceh. Semuanya sungguh tak terduga. Aku jadi terharu karena merasa bahwa apa yang kusampaikan dan kuajarkan kepada mereka dapat mereka terima dengan baik dan bermanfaat buat mereka.
Aku berfikir bahwa suatu hari nanti aku ingin kembali ke Aceh, dan belakangan hal itu kesampaian karena hingga saat ini, aku masih bekerja di Bumi yang pernah dijuluki dengan Serambi Mekkah…
Semoga peringatan tsunami pada tahun ini memberi arti dan semangat bagi kita semua untuk melangkah maju membangun negeri ini dan menjadi bahan renungan bagi segenap kita bahwa kita hanyalah makhluk kecil dihadapan Allah. Dan bencana bisa datang kapan saja dan dimana saja tanpa melihat besar kecilnya amalan manusia.
Filed under: Sejarah Linear Ditandai: | abdi jaya, Aceh, HMI MPO, Meulaboh, tsunami















tak terasa sudah lima taun yah..!
Mari kita bertafakur, merenung & memperbaiki diri, berikhtiar, berjuang untuk menjadi yang lebih baik dihadapan Allah SWT.
Semoga kejadian tersebut tidak terulangi lagi!
Bos, aku udah update, lho!
Ikut HMI juga, ya!
Udah kelar kuliahnya?.
semoga apa yang telah kita lewati memberikan hikmah Bang
RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk
MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank
I Love U fuuuuullllllllllllllllllllllllllllllll
sayang hanya sedikit manusia mau belajar dan mengambil hikmah perjalanan
Itulah kehidupan mas selalu saja ada kenangan yang di lewati baik itu kenangan manis dan pahit,aku juga ni punya kenangan waktu tsunami yakni aku menakhiri usia remajaku
http://o5n.co.cc//6
Kunjungan lagi, apa kabarnya?